Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. –Ratapan 3:25
Baca: Ratapan 3:19-26
Tidak tahan melihat ayahnya yang suka mabuk dan sering menyakiti ibunya, Pablo memutuskan untuk keluar dari rumah pada usia remaja. Ia pindah ke rumah pamannya, lulus dari SMA, menikah, dan memiliki tiga orang anak. Namun sayangnya, Pablo mengulang perilaku merusak yang dulu ia jauhi. Kecanduannya terhadap alkohol dan perilakunya yang buruk mulai menghancurkan keluarganya. Tak lama kemudian, ia pun kehilangan segalanya: pernikahan, keluarga, pekerjaan, dan rumahnya. “Hidup saya sungguh kacau, dan makin lama makin buruk,” katanya.
Akhirnya, Pablo mencari fasilitas rehabilitasi yang dapat menolongnya. “Saat itu hidup saya hancur lebur, tetapi Allah membuka pintu pemulihan bagi saya.” Suatu hari setelah berdoa, ia mengalami kebesaran Allah melalui keindahan alam ciptaan-Nya. Kemudian, anak perempuannya yang termuda melihat perubahan pada diri sang ayah, dan rekonsiliasi pun terjadi. Saat ini, ia sedang berusaha mendapatkan kembali kepercayaan dari anak-anaknya yang lain.
Dalam Kitab Ratapan, Nabi Yeremia meratapi penderitaan bangsanya, yang telah berbalik dari Allah dan dibuang ke Babel: “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu. Jiwaku . . . tertekan dalam diriku” (Rat. 3:19-20). Seperti bangsa Israel, Pablo pernah jauh dari Allah. Namun, seperti Yeremia, ia juga menemukan pengharapan di dalam Allah: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (ay. 22-23).
Seperti Pablo, bangsa Israel mendapatkan awal yang baru. Kita juga dapat kembali kepada Allah dan menemukan pengharapan di dalam Dia.
Oleh: Alyson Kieda
Renungkan dan Doakan
Apakah Anda sedang mencari pengharapan? Bagaimana Allah mengundang Anda untuk menemukan pengharapan di dalam Dia?
Ya Allah, terima kasih, karena Engkau memberiku relasi yang diperbarui dengan-Mu.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu....
WAWASAN
Kitab-kitab dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) biasanya dinamai dari kata pertama atau beberapa kata pertama dalam teksnya. Karena itu, judul Ibrani untuk Kitab Ratapan adalah “Betapa,” terambil dari “betapa terpencilnya kota itu” (1:1). Para penerjemah Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta) memberi judul kitab tersebut “Ratapan.” Kedua judul ini sama-sama tepat.
Dalam banyak mazmur ratapan, seruan pemazmur berakar pada ungkapan “Berapa lama lagi, TUHAN?” (lihat Mazmur 13:1). Ratapan Yeremia, baik dalam nubuatannya maupun dalam Kitab Ratapan, begitu konsisten sehingga ia dikenal sebagai “nabi yang meratap.” Dalam Ratapan 3:19-26, ia meratapi kota Yerusalem yang telah dikepung dan ditawan oleh Babel. Setelah melihat kota yang hancur itu, Yeremia menemukan pengharapan dalam kesetiaan Allah, yang rahmat-Nya “selalu baru tiap pagi” (ay. 23). Bahkan di tengah keputusasaan dan kehilangan terdalam, kita dapat tetap berharap kepada Allah. –Bill Crowder
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar