Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya. –Mazmur 19:2
Baca: Lukas 23:44-49
Suatu siang di bulan April, jutaan orang berkumpul di sepanjang jalur yang telah dipetakan di Meksiko dan Amerika Serikat untuk menyaksikan gerhana matahari total yang langka. Sekolah meliburkan para murid, kota-kota kecil mendadak dipenuhi turis, dan penduduk menyiapkan kursi-kursi santai di halaman rumah sambil mengenakan kacamata pelindung untuk menikmati pemandangan menakjubkan itu. Saat kru televisi menyiarkan hitungan mundur menuju “kegelapan total,” orang banyak itu terdiam, kecuali mengeluarkan satu ungkapan yang terus terdengar: “Oh my God!”
Hal itu menyentuh hati saya. Saya tidak tahu dengan pasti mengapa orang banyak yang mengamati peristiwa alam tadi mengucapkan frasa tersebut, tetapi saya menduga bahwa ketika manusia fana berhadapan dengan sesuatu yang langka dan menakjubkan, rasanya ada perasaan untuk mengakui keberadaan satu Pribadi. Bersyukur kepada Pribadi itu, bahkan menyembah-Nya. Ketika kita menatap ke langit, respons alami kita adalah kekaguman. Inilah yang ditulis Daud, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm. 19:2).
Penulis Injil Lukas mencatat momen-momen terakhir Yesus di kayu salib: “Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar” (Luk. 23:44-45). Matius mencatat reaksi terhadap peristiwa ini: “Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: ‘Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah’” (Mat. 27:54). Tidak dapat tidak, mereka pun mengakui Allah sebagai Pribadi yang layak disembah.
Dengan kagum dan hormat, aku menyembah-Mu, ya Allahku.
Oleh: Elisa Morgan
Renungkan dan Doakan
Kapan dan di mana Anda pernah melihat kemuliaan Allah yang membuat Anda terkagum? Dengan cara apa Anda dapat menyembah Dia, karena segala keagungan-Nya?
Ya Allah, Engkau kudus. Aku menyembah-Mu dengan kagum dan hormat!
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Peristiwa di sekitar kematian Yesus dalam Lukas 23:44-49 menyingkapkan kelayakan Allah untuk disembah. Kata-kata terakhir Kristus ketika Dia menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa (ay. 46) menunjukkan ketaatan dan kepercayaan-Nya yang penuh, bahkan dalam kematian. Ketika kegelapan meliputi seluruh negeri (ay. 44) dan “tabir Bait Suci terbelah dua” (ay. 45), alam ciptaan bersaksi bahwa sesuatu yang supranatural sedang terjadi.
Tanda-tanda alam itu menggerakkan hati sang perwira Romawi—seorang non-Yahudi dan orang luar—untuk menyatakan ketidakbersalahan Yesus (ay. 47). Tanggapannya menunjukkan bahwa penyembahan sejati lahir dari hati yang mengenali kuasa dan kekudusan Allah. Kerumunan orang yang dilanda penyesalan pergi dengan sedih (ay. 48), sementara “semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, . . . berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu” (ay. 49) sambil menyadari kedalaman kasih Allah yang ditunjukkan di kayu salib. Pengorbanan-Nya membuktikan bahwa Dia layak disembah bukan hanya karena kuasa-Nya atas ciptaan, tetapi juga karena kasih-Nya yang rela berkorban. –J.R. Hudberg
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar