[Yesus] bangun dan pergi ke luar . . . ke tempat yang sunyi. –Markus 1:35
Baca: Markus 1:29-39
Cahaya Arktik dari aurora borealis (cahaya utara) terkenal dengan pancaran warna hijau dan ungunya yang berkilauan. Namun, tahukah Anda bahwa cahaya itu juga mengeluarkan gelombang elektromagnetik (radio) berfrekuensi rendah? Ada perangkat-perangkat khusus yang dapat mengubah gelombang radio alamiah itu menjadi bunyi dengung dan derak yang terdengar. Namun, untuk merekam getaran listrik dan energi magnetis yang sebenarnya tidak terdengar itu, seseorang harus menjauh setidaknya 6,5 km dari sumber suara manusia atau listrik yang dapat mengganggu sinyal radio penerima.
Terkadang kita juga perlu menjauhi kebisingan dalam hidup kita supaya kita dapat mendengar suara Allah. Injil Markus menyatakan bahwa Yesus bangun pada waktu hari masih gelap untuk pergi ke “tempat yang sunyi dan berdoa di sana” (1:35). Padahal sebelumnya, Dia terjaga hingga larut malam untuk menyembuhkan orang dan mengusir roh jahat (ay. 21-32). “Seluruh penduduk kota” mengikuti dan menyaksikan Dia (ay. 33). Dapatkah Anda membayangkan sukacita dan kekaguman mereka? Namun, meski Yesus melayani mereka dengan tulus, pengalaman tersebut tentu juga sangat melelahkan.
Jadi, keesokan paginya, Yesus mengambil waktu untuk menikmati ketenangan di hadapan Allah, sekalipun semua orang sedang mencari diri-Nya (ay. 37). Teladan Yesus menunjukkan kepada kita betapa Dia menghargai waktu untuk menyendiri dalam doa.
Hari ini, berhentilah sejenak dan dengarkanlah suara Allah dalam kesunyian (Mzm. 46:11). Biarkan Allah mengatur kembali prioritas Anda dan menyegarkan jiwa Anda, supaya Anda dapat menikmati kedamaian yang Dia tawarkan.
Oleh: Jennifer Benson Schuldt
Renungkan dan Doakan
Bagaimana kita dapat mengambil waktu berdiam diri di hadapan Allah? Apa yang membuat Anda ragu atau enggan untuk menikmati waktu dalam kesunyian bersama-Nya?
Ya Allah, tunjukkanlah bagaimana aku dapat memberi diri lebih lagi bagi-Mu, dengan fokus yang tertuju kepada-Mu.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan kekuatan dari Tuhan, Gbu...
WAWASAN
Yesus memberi kita teladan yang sempurna dalam banyak hal, termasuk dalam menjadikan doa sebagai prioritas-Nya secara konsisten. Mungkin teladan tersebut yang mendorong murid-murid-Nya bertanya tentang hal yang penting ini. Lukas 11:1 mengatakan, “Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: ‘Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.’” Kristus menanggapi dengan memberi mereka suatu pola doa yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami.
Doa itu dimulai dengan berfokus pada Pribadi, kekudusan, dan Kerajaan Bapa kita di surga (ay. 2). Lalu doa itu beralih kepada kebutuhan kita sehari-hari, bahkan yang sangat mendasar seperti makanan sehari-hari (ay. 3). Yesus kemudian menutupnya dengan ungkapan kepedulian terhadap hubungan kita dengan orang lain (ay. 4). Dalam beberapa kata saja, Dia memberi kita pola yang luar biasa bagi doa-doa yang kita naikkan sendiri. Ketika kita meninggalkan hiruk pikuk keramaian di sekitar kita dan berdoa kepada Bapa kita di surga, kita dapat mendengar Dia berbicara kepada kita. –Bill Crowder
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar