• Hidup yang Kaya dengan Syukur 2026-10-27

    [Allah] menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, . . . berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri. –2 Timotius 1:9

    Baca: 2 Timotius 1:1-3, 6-10

    Dari balik jeruji, Dietrich Bonhoeffer menulis sepucuk surat kepada orangtuanya pada tanggal 13 September 1943, lima bulan setelah ia dipenjara karena menentang rezim Nazi. Di dalamnya ia meminta dikirimi buku dan kertas, serta mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang telah mereka berikan. Ia menulis, “Rasanya aneh untuk bergantung sepenuhnya kepada orang lain; tetapi setidaknya pengalaman ini mengajar saya untuk bersyukur, dan saya berharap tidak pernah melupakan pelajaran tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sangat jarang menyadari bahwa kita sebenarnya menerima jauh lebih banyak daripada yang kita berikan, dan bahwa hanya dengan rasa syukur, hidup ini menjadi kaya.”

    Dalam 2 Timotius, Rasul Paulus, yang menulis sambil “dibelenggu seperti seorang penjahat” (2:9), mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam atas mereka yang mengasihi dan mempedulikannya (1:3-4,16). Ia juga meminta Timotius untuk membawakan “kitab-kitab[nya], terutama perkamen itu” (4:13).

    Paulus juga meninggikan anugerah terbesar yang telah Allah berikan: “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri” (1:9). Kasih karunia yang dinyatakan melalui Kristus—yang “mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (ay. 10)—memberi Paulus kedamaian dan kepastian, sekalipun ia berada dalam penderitaan.

    Dietrich Bonhoeffer tidak pernah dibebaskan dari penjara Nazi, dan dihukum mati pada tanggal 9 April 1945. Paulus pun diyakini menjalani hukuman mati tidak lama setelah menulis Surat 2 Timotius. Meski demikian, keduanya dapat bersaksi tentang kebaikan Allah, yang selalu memberi jauh lebih banyak daripada segala sesuatu yang dapat kita balas.

    Oleh: Monica La Rose

    Renungkan dan Doakan

    Dalam hal apa saja Anda pernah mengalami kepedulian orang lain? Bagaimana rasa syukur telah mengubah hidup Anda?

    Allah yang baik, terima kasih, karena Engkau hadir dalam hidupku.

    Amin 

    Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan kekuatan dari Tuhan, Gbu...

    WAWASAN

    Ajakan Paulus kepada Timotius, “ikutlah menderita bagi Injil” (2 Timotius 1:8), adalah ajakan yang dihindari oleh kebanyakan orang. Ketika kita mengalami penderitaan dan ketidaknyamanan karena iman kepada Yesus, kita sering memilih untuk menolaknya daripada menyambutnya. Namun, penghiburan dan pengharapan yang menguatkan kita dapat ditemukan dalam kata-kata di bagian selanjutnya dari ayat itu: “oleh kekuatan Allah.”

    Orang-orang percaya memiliki sumber daya yang lebih dari cukup untuk menghadapi tantangan yang mereka jumpai. Sumber daya itu mencakup “kekuatan” Allah (ay. 7), yakni keperkasaan dan kuasa-Nya. Selain itu, Roh Allah berdiam di dalam kita: “Dengan bantuan dari Roh Allah yang hidup di dalam kita, hendaklah [kita] menjaga baik-baik hal-hal berharga yang sudah dipercayakan kepada [kita]” (ay. 14 BIMK; lihat ay. 7). Akhirnya, dalam penderitaan kita, anugerah Allah menguatkan kita: “Jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus” (2:1). –Arthur Jackson

    Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti 

    Our Daily Bread

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia
Pengamat Sosial

Hidup yang Kaya dengan Syukur 2026-10-27

[Allah] menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, . . . berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri. –2 Timotius 1:...