Sama dengan kita, [Imam Besar kita] telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. –Ibrani 4:15
Baca: Ibrani 4:14-16
Jim, ayah mertua saya, berdinas sebagai penembak dari pesawat pengebom dalam kancah Perang Dunia II di benua Eropa. Ketika pesawatnya ditembak jatuh, ia tertangkap musuh dan menjadi tahanan perang selama beberapa bulan. Jim jarang membicarakan pengalamannya, tetapi mereka yang mengenalnya sejak sebelum perang berkata bahwa ia dulunya seorang yang ceria, santai, dan suka tersenyum. Pengalaman dalam peperangan tersebut telah mengubahnya menjadi pribadi yang murung dan tertutup.
Saya mencoba memahami pengalaman beliau dengan membaca Masters of the Air (Para Jagoan Udara), buku karya Donald Miller yang menggambarkan sengitnya peperangan udara di atas Eropa. Miller menolong saya memahami beratnya dampak jasmani dan psikologis yang dialami oleh para penerbang itu. Penjelasan Miller semakin menumbuhkan rasa belas kasihan saya kepada ayah mertua saya.
Penulis Kitab Ibrani menyebutkan tentang “Imam Besar Agung” yang kita miliki (4:14), yaitu Yesus sendiri, yang tidak saja mengerti pergumulan kita tetapi juga belajar merasakan apa yang kita rasakan dalam setiap situasi, karena Dia pernah hidup di antara manusia. Kitab Ibrani mengatakan, “Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (ay. 15). Bayangkan! Yesus tahu apa yang kita alami, bahkan Dia pernah dicobai sama seperti kita.
Belajar memiliki hati yang berbelas kasihan seperti Yesus adalah cara yang luar biasa untuk menunjukkan kasih Allah kepada mereka yang membutuhkan-Nya. Kiranya Allah mengaruniakan kepada kita, melalui Roh-Nya yang kudus, hati penuh pengertian yang menjangkau orang lain dalam cinta kasih dan belas kasihan.
Oleh: Bill Crowder
Renungkan dan Doakan
Kepada siapa Anda merasa sulit berbelas kasihan? Bagaimana Anda dapat mengembangkan hati yang lebih berpengertian?
Bapa terkasih, ampunilah aku, ketika aku bersikap kasar terhadap orang lain. Ajarilah aku cara berbelas kasihan, supaya mereka dapat melihat kasih-Mu di dalam diriku.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan kekuatan dari Tuhan, Gbu...
WAWASAN
Surat kepada orang Ibrani menjelaskan apa yang Yesus lakukan bagi kita, tetapi agar dapat lebih menghargainya, penting bagi kita untuk memahami sistem persembahan kurban yang ditetapkan dalam Kitab Imamat (4:1–7:10). Dalam Ibrani, penulis menegaskan bahwa Kristus, meski sepenuhnya Allah, sebagai manusia “dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah” (2:17). Sang penulis juga menjelaskan, “Seandainya kesempurnaan bisa dicapai melalui keimaman Lewi . . . untuk apa ada imam lain yang harus dibangkitkan?” (7:11). Kemanusiaan Yesus dan natur ilahi-Nya memampukan Dia untuk “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” (4:15) dan menebus kita dari dosa untuk selamanya. Karena Dia turut merasakan apa yang kita alami, kita dapat meminta pertolongan-Nya untuk menjangkau orang-orang di sekitar kita. Saat melakukannya, kita pun mengarahkan mereka kepada Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya satu kali untuk selama-lamanya bagi kita. –Tim Gustafson
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar