Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur. –Mazmur 4:9
Baca: Mazmur 4
Dalam bukunya Generation to Generation (1985), psikolog keluarga Rabi Edwin Friedman memperkenalkan istilah “kehadiran yang menenangkan.” Pendapat Friedman, yang kemudian dijabarkan dalam buku A Failure of Nerve, menyatakan bahwa “masyarakat Amerika zaman modern ini terus-menerus hidup dalam kecemasan, hingga terjadi kemerosotan emosional yang merusak kepemimpinan yang tegas.” Friedman menyoroti bagaimana kecemasan yang serius bisa menyebar dalam suatu sistem—baik dalam keluarga, tempat kerja, maupun komunitas iman. Namun, dengan cara yang sama, kehadiran seorang pemimpin yang tenang dapat membawa dan menyebarkan kedamaian di tengah badai yang sedang bergejolak.
Mazmur 4 adalah mazmur yang ditulis Daud di tengah badai kehidupannya. Dalam kecemasannya, Daud berseru kepada Allah, “Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!” (ay. 2). Selain mencemaskan keselamatan dirinya, ia menyadari bahwa para pengikutnya juga dilanda ketakutan: “Banyak orang berkata: ‘Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?’” (ay. 7).
Namun, keputusan Daud untuk percaya kepada Allah telah menghadirkan ketenangan di tengah kecemasan! Ia berkata, “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur.” Daud dapat beristirahat karena “hanya Engkaulah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman” (ay. 9).
Kita dapat beristirahat dalam kehadiran Allah yang menenangkan. Kita pun dipanggil untuk menjadi pembawa damai-Nya ke mana pun kita melangkah.
Oleh: John Blase
Renungkan dan Doakan
Saat ini, keadaan apa yang menimbulkan kecemasan dalam hidup Anda? Seperti apa wujud kepemimpinan yang menghadirkan ketenangan dalam situasi tersebut?
Ya Allah, sumber damai sejahtera, Engkaulah satu-satunya yang memberiku rasa aman. Kiranya kepercayaanku kepada-Mu dapat mendorong orang lain untuk bersandar kepada-Mu juga.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Mazmur 4 menggambarkan Daud yang tenang dan percaya kepada Allah di tengah tekanan dan fitnah (ay. 2-3,9). Ia yakin Allah telah memilihnya untuk menjalani hidup yang memuliakan-Nya (ay. 4), meski ia sadar kecenderungan hatinya untuk membalas orang yang menyakitinya. Karena itu, ia menasihati dirinya sendiri, “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam” (ay. 5). Alih-alih melampiaskan amarah, Daud memilih untuk merenungkan kebaikan dan kesetiaan Allah dalam diam (ay. 5-9). Dalam mazmur lain, ia menulis hal yang senada, “Berdiam dirilah di hadapan TUHAN . . . jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan (37:7-8). Hari ini, saat kita cemas, kita juga dapat meminta Allah menolong dan mengingatkan kita akan kehadiran serta kesetiaan-Nya. –K.T. Sim
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar