Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal. –Yeremia 31:3
Baca: Yeremia 31:1-4, 7-9
Salah satu surat cinta paling dramatis dan misterius sepanjang masa ditulis oleh komponis Ludwig van Beethoven, ditemukan setelah kematiannya pada tahun 1827. Ditulis dengan tergesa-gesa dan penuh gairah, surat itu memuat kalimat seperti, “Kekasih abadiku . . . aku hanya bisa hidup sepenuhnya bersamamu atau tidak sama sekali.” Yang tragis, surat itu tampaknya tak pernah terkirim, dan siapa penerimanya pun tetap menjadi misteri.
Surat Beethoven menyentuh hati banyak orang yang ikut merasakan kerinduannya yang mendalam akan cinta sejati. Adakalanya kita mencari kasih dan kepuasan dari orang, benda, atau pengalaman tertentu yang tidak bisa sepenuhnya memuaskan kita. Akan tetapi, kasih Allah bagi umat perjanjian-Nya jauh lebih besar daripada romansa sesaat. Kepada mereka, Allah menunjukkan kasih-Nya yang agung bagi semua orang. Melalui Nabi Yeremia, Allah berkata, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Yer. 31:3). Karena kasih-Nya, Dia menjanjikan masa depan yang penuh ketenangan dan kasih karunia, serta pemulihan atas apa yang telah hancur (ay. 2,4). Meski umat-Nya berulang kali memberontak, Allah berjanji untuk membawa mereka kembali kepada-Nya (ay. 9).
Berabad-abad kemudian, kasih yang kekal itu menggerakkan Yesus untuk rela menanggung kematian demi kita yang berdosa, bahkan sebelum kita pernah terpikir untuk membalas kasih-Nya (Rm. 5:8). Kita tidak perlu mencari atau mengupayakan diri memperoleh kasih itu—karena kita memang sudah dikasihi Allah dengan kasih yang kekal!
Oleh: Karen Pimpo
Renungkan dan Doakan
Apa saja yang Anda lakukan untuk mencari kasih di dunia ini? Bagaimana cara Allah menunjukkan kasih-Nya yang kekal kepada Anda?
Allah Maha Kasih, terima kasih, karena Engkau tak pernah lelah mengejarku dengan kasih yang tak berkesudahan.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Allah mendisiplin umat pilihan-Nya karena pemberontakan mereka. Yerusalem dihancurkan dan orang Israel dibuang ke Babel (Yeremia 1:14-16; 5:15-19; 6:22-23; 25:9-11). Namun, setelah masa pendisiplinan selesai, Allah membawa mereka kembali dari pembuangan (30:8-17), memulihkan hak mereka sebagai bangsa pilihan-Nya (ay. 18-24), dan terutama memulihkan hubungan mereka dengan diri-Nya (ps. 31). Dia melakukan semua itu menurut kasih dan rahmat-Nya yang tak pantas mereka terima. Allah adalah “bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-[Nya]” (ay. 9). Dia berjanji, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (ay. 3). Pendisiplinan Allah tidak bertentangan dengan kasih-Nya, karena “TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi” (Amsal 3:12). Kita dapat meyakini bahwa Allah mengasihi kita, dan selalu menyertai dengan kasih-Nya yang abadi. –K.T. Sim
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar