Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. –2 Timotius 4:7
Baca: 2 Timotius 4:6-8
Mark adalah seorang pelari maraton sekaligus gembala yang setia dari dua gereja dalam 35 tahun terakhir, dan ia baru saja pensiun. Salah satu hadiah yang ia terima adalah sepasang sepatu lari baru. Saya pernah berlari bersamanya sekali—lebih dari 20 tahun lalu—tetapi dalam hidupnya Mark sudah mengikuti maraton penuh sejauh 42 km di berbagai kota. Dalam acara pengucapan syukur atas masa pensiunnya, Mark mendengar jemaat dan komunitas yang ia layani menyampaikan apresiasi mereka atas kesetiaannya. Berkat kuasa dan kasih karunia Allah, Mark dapat menyelesaikan pelayanannya dengan baik.
Kehidupan kita lebih menyerupai maraton daripada lari jarak pendek. Adakalanya kita lelah dan ingin menyerah. Namun, kasih karunia dan kekuatan Allah tidak terbatas bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Ketika Rasul Paulus berada di dalam penjara dan mendekati akhir hidupnya (2 Tim. 4:6), ia meneguhkan Timotius, anak rohaninya: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (ay. 7). Jalan hidup membawa kita ke berbagai keadaan, tetapi di mana pun kita berada, penting untuk mengingat bahwa ketekunan dalam iman sungguh penting dan mendatangkan upah yang kekal (ay. 8). Allah itulah sumber kekuatan kita (ay. 17); dan oleh kasih karunia-Nya, Dia “akan menyelamatkan [kita], sehingga [kita] masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga” (ay. 18).
Oleh: Arthur Jackson
Renungkan dan Doakan
Kapan Anda merasakan kekuatan Allah, termasuk ketika sudah ingin menyerah? Bagaimana teladan ketekunan seseorang yang dimampukan oleh Roh Kudus dapat menginspirasi Anda?
Ya Bapa, tolonglah aku untuk selalu ingat bahwa orang yang percaya kepada-Mu menerima kekuatan ilahi—“mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yes. 40:31).
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Sungguh luar biasa betapa Paulus sangat menderita dalam melayani Kristus dan memberitakan Injil (lihat 2 Korintus 11:23-28). Meski demikian, ia tetap setia pada panggilannya dan “mengakhiri pertandingan” yang telah ditentukan baginya (2 Timotius 4:6-8). Bagaimana ia mampu bertahan di bawah kesulitan yang begitu besar?
Paulus menjawabnya dalam 2 Korintus 12:9, saat ia berbicara tentang salah satu pengalaman penderitaannya. Ia belajar bahwa kasih karunia Allah itu cukup, dan kelemahan bukanlah beban: “Jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’” Kelemahan menjadi pintu masuk bagi kuasa Allah untuk bekerja. Saat ini, ketika kita menghadapi cobaan yang berat, marilah kita berpegang pada kasih karunia Allah dan berdiam dalam kuasa serta kekuatan-Nya. –Bill Crowder
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar