Segala milik Potifar diserahkannya pada kekuasaan Yusuf. –Kejadian 39:6
Baca: Kejadian 39:2-6, 20-23
Seperti halnya semua warga laki-laki Singapura yang sudah berusia 18 tahun, saya diwajibkan menjalani dinas militer. Sejujurnya, saya merasa berat hati harus menempuh kewajiban selama dua setengah tahun itu. Seperti banyak pemuda lainnya, saya berusaha memenuhi syarat yang paling minimum: menaati perintah yang diberikan secara harfiah, tidak lebih dan tidak kurang.
Namun, ada juga yang mencurahkan diri mereka sepenuhnya ke dalam tugas-tugas mereka, dan pada akhirnya memperoleh banyak pengalaman berharga—termasuk pelajaran tentang kepemimpinan dan ketahanan diri. Sekarang, jika melihat ke belakang, saya menyadari bahwa usaha dan sikap yang positif seperti itu pasti menyenangkan hati Allah—sebagaimana yang ditunjukkan Yusuf dalam Alkitab.
Meski Yusuf dijual sebagai budak dan kemudian dipenjara, ia menjalankan semua tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya dengan pengabdian penuh. Alih-alih mengutuki keadaannya, Yusuf melakukan peranannya dengan sungguh-sungguh, sampai-sampai “segala milik [Potifar] diserahkannya pada kekuasaan Yusuf” (Kej. 39:6). Yusuf akhirnya dipercaya untuk mengurus penjara, bahkan kemudian menjadi penguasa atas seluruh Mesir.
Berabad-abad kemudian, Rasul Paulus juga mendorong orang percaya: “Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus” (Kol. 3:17). Meski keadaan kita mungkin jauh dari ideal, kiranya Allah menolong kita untuk tetap setia melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan kepada kita, sebab kita bekerja untuk Dia, yang melihat motivasi kita yang sesungguhnya.
Oleh: Leslie Koh
Renungkan dan Doakan
Situasi kurang menyenangkan apa yang pernah Anda alami? Bagaimana Anda merespons lewat sikap dan tindakan Anda?
Ya Bapa, tolonglah aku untuk setia dalam apa yang sedang kukerjakan, dalam situasi apa pun yang Engkau izinkan terjadi dalam hidupku, karena pada akhirnya, aku sedang melayani-Mu.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Kisah tentang integritas Yusuf dalam Kejadian 39 diletakkan langsung setelah kisah Yehuda dan Tamar dalam pasal 38—sebuah kontras yang tajam. Di situ Yehuda gagal bertanggung jawab atas menantunya Tamar setelah kematian anak-anaknya (ay. 6-11,14), hingga Tamar terpaksa menempuh tindakan yang melampaui batas (ay. 4-26).
Sebaliknya, dalam pasal 39, Yusuf menghadapi godaan seksual dari istri Potifar, tetapi tidak seperti Yehuda, ia merespons dengan tetap mempertahankan integritasnya (ay. 7-10). Meski dipenjarakan secara tidak adil, Yusuf tetap melayani dengan setia (ay. 21-23). Penyertaan Allah di dalam penjara lalu menyiapkan Yusuf untuk kekuasaan masa depan yang akan dipegangnya di Mesir (lihat ps. 40).
Kisah ini mengingatkan kita bahwa Allah sanggup menolong kita tetap setia kepada-Nya, bahkan di tengah situasi sulit. –Monica La Rose
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar