Daud menari-nari di hadapan Tuhan dengan sekuat tenaga. –2 Samuel 6:14
Baca: 2 Samuel 6:9-15
Ahli zoologi berbicara tentang apa yang disebut “tarian penyu,” yaitu perilaku menarik dari penyu tempayan saat berhadapan dengan makanan. Penyu itu akan memiringkan tubuh secara vertikal, membuka mulut, mengepakkan kedua sirip depan, dan berputar-putar di dalam air. Namun, penelitian menunjukkan bahwa interferensi gelombang radio dapat mengganggu “sistem radar” internal penyu. Gelombang itu dapat mengacaukan navigasi penyu, sehingga perhatian mereka teralih dari sumber makanan dan, sayangnya, membuat mereka berhenti menari.
Alkitab pernah menceritakan peristiwa saat Daud menari. Pada suatu waktu, Tabut Perjanjian—yang melambangkan kehadiran Allah—dibawa ke Yerusalem dan “Daud menari-nari di hadapan Tuhan dengan sekuat tenaga” (2 Sam. 6:14). Namun, bertahun-tahun kemudian, perhatian Daud teralihkan dan ia menjadi lalai. Ia berzina dengan Batsyeba, lalu mengirim suami perempuan itu ke medan perang agar tewas (11:4, 14-15). Kemudian, anak Daud yang dilahirkan oleh Batsyeba sakit keras dan hampir mati. Dalam penyesalan dan penderitaan batin yang mendalam, Daud “berpuasa dengan tekun dan . . . semalam-malaman itu ia berbaring di tanah” (12:16).
Seperti Daud, kita mungkin pernah bersemangat di hadapan Allah, tetapi kemudian dosa mengalihkan perhatian kita dari-Nya sehingga kita berhenti “menari.” Bagaimana kita dapat kembali bersukacita? Dengan berbalik dari dosa yang mengacaukan hubungan kita dengan Allah. Ketika bertobat, kita akan kembali menemukan pengharapan di dalam Dia. Daud sendiri menulis tentang kemurahan Allah: “Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita (Mzm. 30:12). Allah sanggup membuat kita kembali menari bagi-Nya
Oleh: Kenneth Petersen
Renungkan dan Doakan
Pernahkah Anda “menari” bagi Allah? Apa yang mungkin membuat Anda tidak lagi bersemangat bagi-Nya?
Ya Allah, sudah terlalu lama aku berjalan dalam kegelapan. Sukacitaku makin redup. Mampukanlah aku untuk kembali menari bagi-Mu.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Alkitab mencatat beberapa peristiwa ketika Daud kehilangan sukacitanya, seperti dikisahkan dalam 2 Samuel 6:12-15, dan merasa jauh dari Allah karena dosanya (lihat Mazmur 32; 38:2-5; 40:13). Setelah berdosa lewat perbuatan zinanya dengan Batsyeba dan membunuh Uria, suami Batsyeba, Daud menolak untuk bertobat selama hampir setahun sebelum Nabi Natan menegurnya (2 Samuel 11–12). Mazmur 51 menjabarkan pengakuan dosa Daud (ay. 1-9) dan kerinduannya untuk kembali dekat dengan Allah. Ia berdoa, “Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita . . . Jadikanlah hatiku tahir . . . Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela” (ay. 10-14).
Seperti yang dialami Daud, kita akan diampuni Allah ketika kita mengakui dosa-dosa kita. Kita dapat memohon kepada-Nya, “bukalah bibirku” (ay. 17) agar kita dapat memuji-Nya kembali dan “bersorak-sorai memberitakan keadilan-[Nya]” (ay. 16). –K.T. Sim
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar