• Pulih dari Pengkhianatan 2026-07-28

    Kalau musuhku yang mencela aku, aku masih dapat menanggungnya; . . . Tetapi engkau orang yang dekat dengan aku. –Mazmur 55:13-14

    Baca: Mazmur 55:13-21

    Dalam salah satu novelnya, Toni Morrison menceritakan kisah Nel dan Sula yang bersahabat sejak kecil. Namun, persahabatan itu mulai retak seiring dengan bertambahnya keegoisan Sula, dan mencapai puncaknya saat ia berusaha merayu suami Nel. “Mengapa kamu tidak memikirkan perasaanku?” tanya Nel kepada Sula. “Apakah aku tidak berarti bagimu?” Sayangnya, Sula bahkan tidak cukup peduli untuk menjawabnya.

    Setiap orang yang pernah merasakannya tentu memahami bahwa dikhianati oleh seorang sahabat meninggalkan rasa sakit yang mendalam. Raja Daud mengalami “kemalangan dan bencana” seperti itu ketika persekongkolan politik yang penuh dengan “penindasan dan tipu” mengepungnya (Mzm. 55:11-12). Yang paling menyakitkan ialah mengetahui dalang dari semuanya. “Kalau musuhku yang mencela aku, aku masih dapat menanggungnya” katanya. “Tetapi engkau orang yang dekat dengan aku, temanku dan orang kepercayaanku” (ay. 13-14).

    Bagaimana seharusnya kita bereaksi terhadap pengkhianatan sepedih itu? Saat Daud menyampaikan pergumulannya kepada Allah (ay. 17,21), ia juga berdoa agar pembalasan menimpa si sahabat yang mengkhianatinya (ay. 16). Namun, kita melihat sikap yang berbeda dari Yesus. Saat menghadapi pengkhianatan Yudas, Dia berkata, “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” dan menolak untuk membalas perbuatannya (Mat. 26:49-50).

    Dapatkah persahabatan dipulihkan dari pengkhianatan? Mungkin saja, selama pihak yang terluka bersedia membuka hati untuk berdamai dan pelaku terbukti menunjukkan pertobatannya. Ketidakpedulian Sula tidak memberi pilihan bagi Nel selain memutuskan tali persahabatan mereka. Dengan pertolongan Allah, kiranya kita mampu menjaga ikatan persahabatan dan segera menebus kesalahan atas kepedihan apa pun yang kita sebabkan.

    Oleh: Sheridan Voysey

    Renungkan dan Doakan

    Apakah keliru jika Nel tetap bersahabat dengan Sula, dan mengapa? Bagaimana respons Yesus terhadap Yudas dapat menolong kita tetap membuka pintu perdamaian?

    Ya Allah, mampukanlah aku dengan kuasa Roh-Mu untuk menjadi sahabat yang setia dan dapat dipercaya.

    Amin 

    Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu 

    WAWASAN

    Daud mengalami kecemasan yang mendalam dan rasa sakit yang luar biasa (Mazmur 55:5-6) karena dikhianati oleh seseorang yang sangat ia percayai, yang digambarkannya dengan penuh kasih: “orang yang dekat dengan aku, temanku dan orang kepercayaanku: . . . yang bersama-sama bergaul dengan baik” (ay. 14-15). Awalnya, sang pemazmur ingin melarikan diri saja ke padang gurun untuk menghindari badai gejolak dan rasa sakit itu. Ia menggambarkan dirinya bagaikan merpati yang terbang ke gurun, tempat ia merasa akan terlindung (ay. 7-9).

    Namun, akhirnya Daud memilih berlari kepada Allah, sambil menegaskan bahwa hanya Allah yang sanggup menyelamatkan dan memberi rasa aman (ay. 17-19). Ia berkata, “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau” (ay. 23). Seperti tindakan-Nya menjaga Daud, Allah juga mendengarkan dan menjaga kita ketika kita dikhianati dengan begitu pedih. Dia mencurahkan kasih-Nya kepada kita ketika kita berpaling kepada-Nya untuk memperoleh pertobatan dan pemulihan. –K.T. Sim

    Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti 

    Our Daily Bread

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia
Pengamat Sosial

Hidup Baru bagi Hati yang Mati 2026-07-30

Kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. –Kolose 3:3 Baca: Kolose 3:1-4 Teras kayu atau hati kayu (hea...

Halaman FB