Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni. –Efesus 4:32
Baca: Efesus 4:26-32
audio playDENGAR ONLINE
Dari semua presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter memiliki usia pernikahan yang terpanjang. Ia dan istrinya, Rosalyn, menikah selama 77 tahun. Ketika ditanya tentang rahasia di balik pernikahannya yang berhasil bertahan sedemikian lama, Carter menjawab, “Pilihlah orang yang tepat untuk dinikahi.” Selain itu, ia menyebutkan tiga hal penting bagi keberhasilan suatu pernikahan: rekonsiliasi, komunikasi, dan komitmen iman.
Kita melihat ajaran tentang rekonsiliasi di Efesus 4:26: “Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Jimmy dan Rosalyn memegang prinsip ini dengan sungguh-sungguh. Jimmy pernah berkata, “Setiap malam, kami berusaha memastikan bahwa kami sudah benar-benar berdamai dari semua perdebatan di sepanjang hari.” Kita juga menemukan rahasia komunikasi yang meneladan Kristus dalam Efesus 4. Rasul Paulus menulis, “Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef. 4:32).
Allah menetapkan pernikahan sebagai sesuatu yang baik, suatu lembaga yang dibentuk oleh-Nya (Kej. 2:24; Ibr. 13:4). Amsal 18:22 mengatakan bahwa pernikahan adalah berkat ilahi: “Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan Tuhan.” Cara kita memperlakukan satu sama lain, baik dengan pasangan maupun dengan sesama anggota tubuh Kristus, dapat membawa penguatan dan dampak positif bagi orang lain. Baik kita masih lajang atau sudah menikah, perkataan dan perbuatan kita dapat sungguh-sungguh memancarkan hati Kristus yang penuh kasih dan pengampunan.
Oleh: Dave Branon
Renungkan dan Doakan
Bagaimana Allah dapat menolong Anda mencerminkan Kristus dalam hubungan Anda dengan orang lain? Apa artinya menjadi pribadi yang penuh kasih mesra dan rela mengampuni?
Tuhan Yesus, tolonglah aku mengampuni orang lain dengan penuh belas kasihan dan menuntun mereka untuk mengenal-Mu.
Amin...
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu...
WAWASAN
Efesus 4:26-32 dimulai dengan asumsi bahwa kemarahan adalah hal yang tak terhindarkan: “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa” (ay. 26). Namun, Paulus segera memperingatkan terhadap segala ungkapan kemarahan yang berdosa: “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan” (ay. 31). Penekanan dalam bagian ini, seperti dalam surat-surat Paulus lainnya, bukan hanya pada perilaku yang memberi “kesempatan kepada Iblis” (ay. 27) dan “mendukakan Roh Kudus” (ay. 30), tetapi juga pada perubahan sikap yang terjadi ketika kita “mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (ay. 24).
Penyerahan diri kita kepada kebenaran Allah yang supranatural memungkinkan kita untuk mengikuti teladan-Nya: “Hendaklah kamu ramah seorang i terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (ay. 32). Dalam setiap hubungan dengan sesama, Allah sanggup menolong kita mencerminkan hati Yesus yang penuh pengampunan. –Tim Laniak
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar