Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya. –Kolose 3:9
Baca: Kolose 3:9-15
“Betapa kejamnya ketidakjujuran,” tulis teolog dan biarawan Jerman, Meister Eckhart, dalam sebuah puisi yang membandingkan relasi yang dibangun atas dasar kepercayaan dengan relasi yang dirusakkan oleh kebohongan. Ia menggambarkan perkataan penuh kasih dan kebenaran bagaikan “rempah-rempah istimewa yang wangi dalam kehidupan setiap hari.” Namun, kebohongan itu seperti gempa bumi dalam pikiran dan racun bagi jiwa: “Malapetaka tercipta dalam pikiran yang tidak dapat lagi mempercayai seseorang yang pernah dicintai . . . suatu wabah disebarkan oleh orang yang tidak dapat berkata jujur.”
Gambaran wabah yang disebarkan oleh kebohongan mungkin terlihat ekstrem. Namun, sikap mewaspadai perkataan kita sejalan dengan apa yang dijelaskan Kitab Suci tentang perkataan kita dan dampak yang ditimbulkannya. Sewaktu Rasul Paulus menjelaskan kepada orang-orang yang baru percaya tentang perbedaan antara hidup sebelum dan sesudah mereka di dalam Tuhan Yesus, ia menyoroti soal perkataan. “Jangan lagi kamu saling mendustai,” tegas sang rasul, ”karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru” (Kol. 3:9-10).
Mungkin ada banyak alasan yang menggoda kita untuk berdusta atau memutarbalikkan kebenaran. Terkadang kita berpikir itulah cara terbaik untuk melindungi diri sendiri atau orang lain. Namun, dengan kasih Kristus dan oleh Roh-Nya yang bekerja dalam hati kita, kita dapat memilih cara hidup yang berbeda, yang menunjukkan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (3:12). Kita juga mengalami bagaimana pengampunan dan kasih dapat menumbuhkan kepercayaan serta damai sejahtera yang membawa kelegaan bagi jiwa kita (ay. 15).
Oleh: Monica La Rose
Renungkan dan Doakan
Pernahkah Anda melihat kerusakan yang disebabkan oleh kebohongan? Bagaimana pengampunan dan kasih menolong Anda untuk hidup dalam kejujuran?
Juruselamat yang penuh kasih, mampukanlah aku memberkati orang lain dengan perkataan yang dapat dipercaya.
Amin.
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Paulus menasihati orang percaya untuk menjalani hidup yang setia dan berbuah, “[hidup] layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal” (Kolose 1:10). Dengan menggunakan gambaran mengganti pakaian lama dengan yang baru, ia memerintahkan kita: “matikanlah” kebiasaan duniawi dan berdosa (3:5-9), lalu kenakan sifat-sifat serupa Kristus (ay. 10-15). Paulus menekankan pentingnya menjauhi ucapan yang merusak—“fitnah,” “kata-kata kotor,” dan “dusta” (ay. 8-9). Kejujuran sangatlah penting bagi orang percaya, karena Kristus sendiri adalah “kebenaran” (Yohanes 14:6).
Dalam surat lainnya, Paulus memerintahkan kita, “Buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain . . . Pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:25,29). Ketika kita “menyatakan hal-hal yang benar dengan hati penuh kasih,” kita memberkati orang lain sekaligus bertumbuh “makin lama makin menjadi sempurna seperti Kristus” (ay. 15 BIMK). –K.T. Sim
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar