Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati. –1 Samuel 16:7
Baca: 1 Samuel 16:6-12
Suatu kali, dalam perjalanan mengajar ke Moskow, saya memutuskan untuk pergi makan siang dengan menaiki kereta bawah tanah. Sambil berdiri dalam gerbong kereta, saya mulai bersiul dengan senang hati karena menikmati hari yang indah dan kegiatan mengajar yang menyenangkan. Namun, sejumlah penumpang lain menatap saya seolah melihat orang gila. Ketika sudah kembali ke sekolah, saya bercerita kepada salah satu staf kantor tentang pengalaman saya tadi. Saya berasumsi bahwa orang-orang menatap saya karena mereka merasa begitu putus asa dan patah semangat. Dengan sopan, staf tersebut memberi tahu saya, “Memang hidup mereka sangat sulit, tetapi bukan itu alasan mereka menatap Anda. Bersiul di tempat umum adalah sikap yang dianggap tidak sopan.”
Ketika membuat asumsi, kita sering mendasarkannya pada faktor-faktor eksternal yang bisa jadi tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Contohnya dapat kita temukan dalam peristiwa pemilihan Daud sebagai raja Israel yang berikutnya. Saat Nabi Samuel mempertimbangkan anak sulung Isai sebagai calon raja, ia berpikir, “Sungguh, di hadapan Tuhan sekarang berdiri yang diurapi-Nya” (1 Sam. 16:6). Namun, Allah mengingatkan Samuel, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (ay. 7).
Penilaian yang didasarkan pada penampilan akan menuntun kepada kesimpulan yang salah. Biarkanlah Allah yang melakukan penilaian, karena Dia yang sanggup melihat hingga ke dalam hati.
Oleh: Bill Crowder
Renungkan dan Doakan
Apa yang Anda rasakan, ketika orang lain membuat asumsi yang keliru tentang diri Anda? Mengapa begitu mudah kita berasumsi tentang orang lain?
Bapa yang bijaksana, ampunilah aku, karena telah menilai motivasi orang lain, sementara aku sendiri tidak tahu isi hati mereka. Tolonglah aku untuk menyerahkan penilaian yang benar kepada-Mu.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan kekuatan dari Tuhan, Gbu...
WAWASAN
Ketika Samuel melihat Eliab, putra Isai, ia mengira bahwa orang itu “diurapi [Tuhan]” (1 Samuel 16:6) karena penampilannya yang gagah dan mengesankan, sehingga tampak layak menjadi raja. Namun, Allah menegur penilaian Samuel yang terlalu tinggi itu dengan kebenaran yang mencengangkan: “Aku tidak menilai seperti manusia menilai” (ay. 7 BIMK). Kita pun sering kali cepat menilai orang lain dari penampilan luarnya, dengan mengira kepercayaan diri sebagai panggilan dan perawakan sebagai kesetiaan. Namun, Allah melihat lebih dalam: “Aku melihat hati” (ay. 7 BIMK).
Hanya Allah yang memahami seluruh kisah dalam diri setiap orang, dan Dialah satu-satunya hakim yang adil. Rasul Paulus menulis bahwa pada waktu Tuhan kembali, “Ialah yang akan membuka semua rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam kegelapan. Ialah yang akan membongkar semua niat yang terpendam di dalam hati manusia” (1 Korintus 4:5 BIMK). Saat kita tergoda untuk menghakimi orang lain, kiranya Allah menolong kita untuk mempercayakan penghakiman yang benar kepada Dia yang melihat hati. –J.R. Hudberg
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar