Hendaklah kamu selalu . . . sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. –Efesus 4:2
Baca: Efesus 4:1-6
Shiro Oguni pernah berkunjung ke rumah perawatan bagi para penderita demensia. Karena hatinya pilu melihat keadaan mereka yang terisolasi dari masyarakat, ia berusaha memikirkan cara yang lebih baik untuk memperlakukan mereka. Dengan kreativitas yang jenius, Oguni menciptakan suatu restoran yang unik bernama Restoran Salah Pesan, yang semua pelayannya bergumul dengan ingatan yang lemah. Dalam pekerjaan yang membutuhkan daya ingat yang kuat, setiap pelayan di sana justru menemui kesulitan untuk melakukannya. Bila dilihat dari perspektif bisnis secara umum, hasilnya memang buruk: 37 persen dari para tamu tidak menerima apa yang mereka pesan. Namun, tamu-tamu itu memang sudah memperkirakan dan memahami masalah tersebut. Mereka menerima permintaan maaf atas “kejutan” yang mereka dapatkan, lalu pulang dengan gembira.
Rasul Paulus menulis, “Hendaklah kamu selalu . . . sabar” (Ef. 4:2), dan kita semua tahu bahwa itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Kesabaran menuntut kita untuk saling membantu, sebuah kata yang juga dapat berarti “menanggung,” “menahan” atau “menopang.” Dengan kata lain, diperlukan usaha untuk melakukannya. Jika usaha tersebut bersumber dari kasih Allah dan bukan dari kekuatan kita sendiri, bebannya akan menjadi lebih ringan dan membuat kita menjalani hidup yang penuh sukacita, kejutan, pengampunan, bahkan gelak tawa. Itulah kehidupan yang mungkin tidak memberikan apa yang Anda mau, tetapi yang akhirnya memberikan apa yang sebenarnya diinginkan oleh kita semua, yaitu hidup yang “sesuai dengan kedudukan [kita] sebagai orang yang sudah dipanggil oleh Allah” (ay. 1 BIMK).
Oleh: John Blase
Renungkan dan Doakan
Siapakah orang-orang yang sering membuat Anda tidak sabar? Bagaimana Anda akan menunjukkan kesabaran kepada mereka minggu ini? (Bisa dimulai dengan mendoakan mereka.)
Tuhan Yesus, aku ingin memiliki kesabaran. Tolonglah aku yang sering tidak sabar.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Di awal suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus mengingatkan betapa Allah sangat mengasihi kita: “Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan . . . [dan] menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya” (Efesus 1:4-5). Sebagai tanggapan terhadap kasih yang tidak layak kita terima itu, kita dinasihati Paulus untuk “hidup sesuai dengan panggilan [kita] sebagai umat Allah” (4:1 TSI) serta menunjukkan kebajikan rohani yang serupa Kristus—kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan kasih (ay. 2).
Dalam kerendahan hati, kita diajak untuk “menganggap yang lain lebih utama dari pada diri [kita] sendiri; dan [tidak] hanya memperhatikan kepentingan [kita] sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2:3-4). Dalam kelemahlembutan dan kesabaran, kita “sabar satu sama lain, dan saling mengampuni . . . [karena] Tuhan dengan senang hati mengampuni [kita]” (Kolose 3:13 BIMK). Karena “Allah tinggal di dalam kita dan kasih-Nya itu disempurnakan di dalam kita” (1 Yohanes 4:12 AYT), Dia akan memampukan kita menunjukkan kasih-Nya kepada orang lain dengan kesabaran. –K.T. Sim
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar