Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman. –Amsal 15:1
Baca: Amsal 15:1-6
“Tutup saja. Jangan diutak-atik lagi,” ucap seorang peternak lebah yang lebih senior dan berpengalaman kepada saya, ketika saya masih belajar merawat sarang lebah. Gerak-gerik saya yang cepat dan kuat ternyata menghasilkan getaran yang dianggap membahayakan oleh lebah, sehingga kawanan lebah itu semakin berkerumun di sekitar kepala saya. Meski saya mencoba merawat mereka, yang saya lakukan justru membuat mereka marah. Teman saya lalu menunjukkan pentingnya bergerak “dengan lembut” supaya tidak terlalu mengganggu lebah. Sekarang (bertahun-tahun kemudian), saat saya mengurus sarang lebah, gerakan-gerakan saya sudah jauh lebih halus, sampai-sampai istri saya berkata bahwa saya terlihat seperti menari.
Terkadang percakapan yang sulit dengan seseorang itu bagaikan berhadapan dengan lebah. Ketika orang lain merasa kesal dan terjadi ketegangan, bereaksi dengan marah hanya membuat keadaan bertambah buruk. Raja Salomo mengamati bahwa, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” (Ams. 15:1). Mungkin kita perlu waktu untuk belajar merespons mereka yang sedang jengkel atau bersikap keterlaluan dengan cara yang baik dan damai. Namun, karena kelemahlembutan adalah buah yang ditumbuhkan Roh Kudus di dalam kita (Gal. 5:22-23), dengan pertolongan Allah kita akan semakin mampu melakukannya.
Akhir-akhir ini, saya belajar untuk meminta hikmat dan kelemahlembutan, baik ketika mengurus sarang lebah atau terlibat dalam percakapan yang sulit. Ketika kita berjalan bersama Allah dalam momen-momen yang penuh ketegangan, “penolong [kita] dalam kesesakan” tidak pernah jauh dari kita (Mzm. 46:2).
Oleh: James Banks
Renungkan dan Doakan
Bagaimana Allah dapat menolong Anda untuk merespons seseorang yang marah dengan cara yang lembut? Apa yang akan Anda katakan kepada seseorang yang membutuhkan respons yang lemah lembut dari Anda hari ini?
Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk membagikan kasih-Mu dengan lembut melalui caraku merespons sesamaku hari ini.
AMIN
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Hikmat adalah salah satu tema utama dalam Alkitab. Dalam sastra hikmat Perjanjian Lama, puisi dimaksudkan untuk menunjukkan perbedaan antara hikmat dan kebodohan. Hal ini sering dilakukan melalui perangkat sastra yang disebut paralelisme. Dalam paralelisme antitesis, sebuah ayat memuat dua baris yang saling berlawanan, seperti terlihat di Amsal 15:1: “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Perangkat yang ditemukan di sepanjang Kitab Amsal dan Pengkhotbah ini dengan jelas menunjukkan pentingnya menjalani hidup berhikmat di tengah dunia yang dipenuhi kebodohan.
Kitab Amsal memberikan nasihat praktis tentang bagaimana kita dapat berkata-kata dengan bijaksana. Kita dapat meminta hikmat kepada Allah ketika kita tidak tahu bagaimana harus menghadapi situasi yang sulit.
ODB
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar