• Mendengarkan Allah 2026-09-29

    Allah] ada di surga dan engkau ada di bumi. Janganlah berlaku bodoh dengan menghamburkan kata-kata. –Pengkhotbah 5:1 (FAYH)

    Baca: Pengkhotbah 4:17–5:4

    Dalam sebuah sesi TED Talk, Celeste Headlee menguraikan “10 Cara untuk Melakukan Percakapan dengan Lebih Baik.” Salah satu caranya mungkin tampak berlawanan dengan intuisi kita: Untuk melakukan percakapan dengan baik, kita perlu mendengarkan. Sering kali ketika orang lain berbicara, kita sebenarnya tidak sungguh-sungguh menyimak mereka, melainkan sibuk memikirkan apa yang akan kita katakan selanjutnya. Headlee mengutip penulis Stephen Covey: “Kebanyakan dari kita tidak mendengarkan dengan niat untuk memahami, melainkan dengan niat untuk membalas.”

    Kitab Suci banyak berbicara tentang sikap mendengarkan, terutama ketika berkaitan dengan Allah. Kitab Pengkhotbah menyatakan dengan tegas: “Bukalah telingamu dan tutuplah mulutmu” (Pkh. 4:17 FAYH). Kita diingatkan bahwa Allah mengetahui jauh lebih banyak daripada kita, “karena [Allah] ada di surga” (ay. 1 FAYH), sehingga sudah sepatutnya kita mendengarkan Dia. Sebuah ayat dalam Kitab Amsal senada dengan kutipan dari Headlee dan Covey: “Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya” (Ams. 18:2).

    Apa artinya ini bagi kita? Saat kita datang kepada Allah dalam doa, alangkah baiknya kita menyediakan waktu untuk benar-benar mendengarkan Dia, bukan terus-terusan hanya mengutarakan segala kekhawatiran dan pergumulan kita kepada-Nya. Selain itu, dalam percakapan kita dengan orang lain hari ini, kita mungkin akan terkejut saat menyadari bagaimana hubungan kita semakin diperdalam ketika kita sungguh-sungguh mendengarkan mereka, bukan hanya memikirkan apa yang hendak kita katakan kepada mereka.

    Oleh: Kenneth Petersen

    Renungkan dan Doakan

    Dalam hal mendengarkan, bagaimana Anda dapat memandang waktu doa Anda di hadapan Allah secara berbeda? Bagaimana Anda dapat meluangkan waktu lebih banyak untuk mendengarkan-Nya?

    Ya Allah, tolonglah aku agar bersungguh-sungguh mendengarkan orang lain. Selain itu, aku rindu menyediakan waktu dalam doaku untuk benar-benar mendengarkan-Mu.

    Amin 

    Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan kekuatan dari Tuhan, Gbu...

    WAWASAN

    Memiliki sikap hati yang mau mendengarkan dan tanggap adalah bagian penting dari doa. Kita sering mendengar suara Allah ketika Roh Kudus menuntun kita kepada firman-Nya (Yohanes 14:26). Kita pun didesak oleh Kitab Suci untuk mendengarkan dan menaati perkataan-Nya. Firman Allah juga memberi kita hikmat untuk menghadapi berbagai tantangan hidup. Mungkin inilah alasan mengapa “menaati” dan “mendengarkan” berasal dari kata Ibrani yang sama, shema. Mendengar Allah tanpa menaati-Nya adalah kebodohan terbesar.

    Di 1 Samuel 15:22, Saul ditegur melalui perkataan Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan.” Kata-kata ini sejalan dengan Pengkhotbah 4:17: “Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh.” Saat ini, Roh Kudus sanggup menolong kita untuk meluangkan waktu dan mendengarkan apa yang Allah katakan ketika kita berdoa. –Bill Crowder

    Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti 

    Our Daily Bread

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia
Pengamat Sosial

Mendengarkan Allah 2026-09-29

Allah] ada di surga dan engkau ada di bumi. Janganlah berlaku bodoh dengan menghamburkan kata-kata. –Pengkhotbah 5:1 (FAYH) Baca: Pengkhotba...

Halaman FB