• Warisan Jiwa yang Murah Hati 2026-09-10

    Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya. –Amsal 13:22

    Baca: Amsal 13:18-22

    Saya bersyukur dapat mengenal kakek-nenek saya dari pihak ibu dengan baik, meski kami tidak tinggal di negara bagian yang sama. Mereka sering datang ke Colorado untuk mengunjungi kami, sementara saya dan saudara perempuan saya juga senang mengunjungi mereka di California. Setelah kami beranjak dewasa, percakapan dengan kakek-nenek kami berkembang dari topik tentang masa kanak-kanak yang menyenangkan kepada diskusi yang lebih serius, seperti tentang keuangan. Mereka menjelaskan bahwa mereka ingin membagikan kekayaan mereka kepada kami selama mereka masih hidup, tetapi setelah meninggal dunia, sejumlah besar harta mereka akan didermakan.

    Sepanjang hidup mereka, kakek dan nenek saya memang sangat murah hati kepada kami. Setelah mereka berpulang, ada perasaan bangga saat melihat harta benda mereka yang tersisa didermakan kepada orang lain. Ketika membandingkan teladan hidup mereka dengan kata-kata dari Amsal 13:22, bahwa “orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya,” saya melihat peninggalan mereka bagi saya dengan sudut pandang yang lebih luas. Tidak sepatutnya kita hidup hanya mementingkan diri sendiri, melainkan kita perlu mempedulikan generasi penerus kita.

    Tidak semua dari kita akan memiliki kekayaan finansial untuk diwariskan kepada generasi mendatang. Namun, dengan memilih untuk bersikap murah hati kepada orang lain dengan apa pun yang kita miliki, bahkan hanya dalam bentuk waktu dan perhatian, anak-anak kita (dan anak-anak mereka kelak) akan menerima warisan yang berharga, yaitu warisan jiwa yang murah hati. Dengan bergantung kepada Allah untuk segala kebutuhan kita, kita dapat membagikan iman dan harta kekayaan yang kita miliki kepada orang lain.

    Oleh: Kirsten Holmberg

    Renungkan dan Doakan

    Teladan kesetiaan dan kemurahan hati siapa yang telah memberkati Anda? Bagaimana Anda dapat memberi bantuan nyata kepada orang lain yang membutuhkannya hari ini?

    Ya Bapa, tolonglah aku untuk hidup dengan jiwa yang murah hati.

    Amin 

    Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu 

    WAWASAN

    Dalam Kitab Amsal, manusia sering dikategorikan dalam dua sisi yang berlawanan: bijak atau bodoh, baik atau jahat, terhormat atau memalukan. Kemurahan hati menjadi ciri orang yang “baik.” Orang yang murah hati rindu memberi manfaat bagi generasi mendatang: “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya” (Amsal 13:22). Kitab Amsal juga mengajarkan dimensi yang tak terduga dari memberi. Misalnya, “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan” (11:24). Dimensi lainnya menunjukkan bahwa Allah memandang kemurahan hati kita kepada sesama sebagai perbuatan yang ditujukan langsung bagi-Nya: “Menolong orang miskin sama saja dengan memberi pinjaman kepada TUHAN” (19:17 FAYH; lihat 14:31). 

    Orang percaya memandang uang sebagai sarana untuk berinvestasi dalam pekerjaan Allah dan pelayanan kepada umat-Nya, bukan sekadar untuk konsumsi pribadi. Itulah sikap hati orang yang diberkati. Rahasia dalam pemberian ini hanya dapat kita hargai jika kita benar-benar memberi. Sembari kebutuhan kita dipenuhi Allah, kita pun dapat memilih hidup untuk bermurah hati kepada orang lain. –Tim Laniak

    Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti 

    Our Daily Bread

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia
Pengamat Sosial

Warisan Jiwa yang Murah Hati 2026-09-10

Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya. –Amsal 13:22 Baca: Amsal 13:18-22 Saya bersyukur dapat mengenal kakek-nenek saya dari pih...

Halaman FB