Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada Tuhan! –Mazmur 31:25
Baca: Mazmur 31:13-18
Putra Kristin meninggal dunia karena kanker saat usianya baru tujuh tahun. Tiga tahun kemudian, putranya yang lain didiagnosis dengan penyakit yang tak dapat disembuhkan. Teman-teman Kristin yang belum mengenal Kristus ikut berduka, tetapi mereka tak dapat memahami mengapa ia tetap mempercayai Tuhan. “Bagaimana mungkin Allah yang kamu sembah membiarkan semua ini terjadi? Mengapa kamu masih percaya kepada-Nya?” tanya mereka.
Namun, bagi Kristin, pengalaman itu justru memperkuat alasannya untuk tetap beriman. “Aku tidak mengerti mengapa semua ini terjadi,” katanya, “tetapi aku tahu Allah akan menolong kami melewatinya. Hanya Dia yang sanggup memberi saya harapan untuk terus melangkah.”
Harapan dan iman seperti itulah yang menopang Raja Daud di tengah kesulitan besar yang dihadapinya. Saat dikelilingi oleh musuh yang ingin menghancurkannya, Daud mungkin tidak mengerti semua alasan di balik kesulitannya. Namun, ia tahu bahwa ia mengikuti Allah yang dapat diandalkan untuk membebaskan dan memberkatinya pada waktu-Nya (Mzm. 31:15-17). Dengan pengharapan yang pasti itu, Daud berserah dan berkata, “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu” (ay. 16). Sikap penuh penyerahan diri itu menguatkan dirinya, sehingga ia juga dapat berkata: “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada Tuhan!” (ay. 25).
Ketika kita merasa kewalahan dan harapan tampak memudar, kita tahu kita dapat berpegang lebih erat kepada Allah dan kepada pengharapan hidup yang hanya bersumber dari-Nya.
Oleh: Leslie Koh
Renungkan dan Doakan
Apa yang Anda perlukan untuk tetap melangkah di tengah tantangan hidup? Bagaimana janji pengharapan dari Allah memberi Anda sukacita dan kekuatan di dalam kesulitan?
Bapa yang penuh kasih, Engkau mengetahui segala pergumulan dan keraguanku. Karuniakanlah aku iman untuk tetap mempercayai-Mu dan kekuatan untuk terus melangkah maju.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Menjelang kematian-Nya di salib, Yesus mengutip kata-kata dari Kitab Mazmur. Kita sudah akrab dengan perkataan yang terambil dari Mazmur 22:2, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (lihat Matius 27:46; Markus 15:34). Kata-kata ini menyampaikan dalamnya rasa sakit dan semacam ketidakberdayaan di tengah situasi yang tidak terelakkan. Keadaan Daud maupun keturunannya, Yesus, membuat mereka berseru dalam kepedihan.
Namun, kata-kata yang diucapkan Kristus sebelum menyerahkan nyawa-Nya mengandung makna yang berbeda: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Lukas 23:46). Yesus kembali mengutip Daud, tetapi kata-kata dari Mazmur 31 ini menyingkapkan keyakinan yang tak tergoncangkan pada kebaikan Bapa di hadapan penderitaan yang berat.
Saat menghadapi rasa sakit dan penderitaan yang pedih, kata-kata mazmur ini memampukan kita untuk berpegang pada Bapa seperti yang dilakukan Yesus. Kita memiliki pengharapan yang sama seperti yang dimiliki oleh Sang Anak Allah. –Jed Ostoich
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar