Allah telah berlaku tidak adil terhadap aku, dan menebarkan jala-Nya atasku. –Ayub 19:6
Baca: Ayub 19:5-12
Setelah mengalami kekejaman di kamp konsentrasi Auschwitz, Elie Wiesel kehilangan imannya. “Di mana Engkau, Allah yang penuh kemurahan?” tanyanya, saat mengingat kekejian yang ia dan orang lain alami. “Dari kecil, aku tak berharap banyak dari sesama manusia. Namun, aku berharap banyak dari-Mu.”
Meski demikian, Wiesel lalu menyadari bahwa imannya tidak pernah benar-benar sirna. “Justru karena percaya kepada Allah, saya marah kepada-Nya,” ujarnya kepada seorang jurnalis, “dan saya masih tetap percaya.” Tidak mungkin kita marah kepada pribadi yang tidak kita yakini keberadaannya.
Mungkin kita merasa tidak nyaman mengungkapkan kemarahan kepada Allah, tetapi tokoh-tokoh Alkitab sendiri melakukannya. “Ya Tuhan, Engkau telah memperdayakan hamba” seru Nabi Yeremia (Yer. 20:7 FAYH). “Apakah Engkau akan melupakanku selama-lamanya?” tulis Daud (Mzm. 13:1 AYT). “Allah telah berlaku tidak adil terhadap aku,” ucap Ayub (Ayb. 19:6). Karena tidak menyadari peran Iblis dalam kemalangannya, Ayub menuduh Allah bersikap kejam (10:3) dan bahkan menuntut-Nya ke pengadilan (31:35)! Meski kemudian Ayub menyadari bahwa pemahamannya terbatas (42:3), perhatikanlah bahwa Allah tidak pernah menegur ungkapan perasaannya yang jujur.
Meski memiliki banyak pertanyaan, Wiesel berdoa kepada Allah, “Mari kita berdamai. Aku tidak tahan terpisah dari-Mu begitu lama.” Mungkin kita juga marah kepada Allah karena merasa Dia membiarkan penderitaan merajalela di dunia ini. Namun, ungkapan perasaan kita kepada-Nya dapat menjadi doa terselubung, yang ternyata menjaga kita tetap dekat dengan Allah. Dia menghendaki kita datang kepada-Nya bukan hanya dengan pujian, tetapi juga dengan kemarahan kita.
Oleh: Sheridan Voysey
Renungkan dan Doakan
Kapan Anda pernah merasa marah kepada Allah? Bagaimana kisah Ayub menolong kita untuk mengungkapkan perasaan itu dan melihatnya dengan perspektif yang benar?
Ya Allah, aku membawa kemarahanku atas banyaknya penderitaan di dunia ini kepada-Mu. Ajarlah aku untuk terus mempercayai-Mu.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Dalam Ayub 19:5-12, Ayub berbicara berani dengan terus terang menuduh baik teman-temannya maupun Allah. Ia berkata bahwa Allah telah menutup jalannya “dengan tembok” (ay. 8)—terjemahan dari kata Ibrani yang berarti merintangi atau menutup sesuatu agar tidak lepas. Ia juga mengklaim bahwa Allah telah membuat jalan-jalannya “gelap,” sehingga ini bukan sekadar gangguan, tetapi hilangnya terang, simbol kehidupan dan keteraturan. Dengan memakai bahasa militer, Ayub menggambarkan keadaannya seperti kota yang terkepung: “Pasukan-Nya maju serentak, . . . merintangi jalan melawan” dirinya (ay. 12).
Ia tidak memoles kata-katanya, bahkan berani menyebut Allah sebagai penyerbu yang “membongkar [dirinya] di semua tempat,” dan “seperti pohon harapan[nya] dicabut-Nya” (ay. 10). Ini bukan hujatan, melainkan jeritan hati yang jujur dari seseorang yang menderita. Perkataannya mengingatkan kita bahwa kita boleh membawa pujian maupun kemarahan dengan jujur dalam doa kepada Allah. –J.R. Hudberg
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar