Terimalah satu akan yang lain . . . untuk kemuliaan Allah. –Roma 15:7
Baca: Roma 15:5-7
Lillian Colón, yang tumbuh besar di panti asuhan, berhasil mengalahkan 400 penari lainnya untuk meraih posisi yang sangat didambakan dalam kelompok tari ternama di dunia. Hingga usia 40-an, Lillian berpentas bersama kelompok itu dalam sinkronisasi koreografi yang kompak. Kini, sebagai pelatih tari di usianya yang ke-70, ia berusaha menanamkan pelajaran terbesar kepada para siswanya: Bekerja sama agar tetap seirama. “Di atas maupun di bawah panggung, hidup kita saling terkait erat,” katanya, “dan kita semua akan berhasil jika kita mendukung dan memperhatikan satu sama lain.”
Rasul Paulus memahami pentingnya prinsip ini. Kesehatian dalam Kristus akan mengarahkan pujian kita kepada tujuan sejati, yakni untuk memuliakan Allah. Paulus menegaskan hal ini kepada jemaat Tuhan di Roma, baik Yahudi maupun non-Yahudi, untuk mendorong kesatuan mereka. “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus,” tulisnya (Rm. 15:5). Tujuannya supaya “dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (ay. 6).
Suara-suara yang saling bersaing tidak akan menghasilkan kesehatian. Ketika kita bersama-sama memuji Allah, tanpa yang satu meremehkan yang lain, kesatuan di dalam Kristus menemukan maknanya yang sejati. “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita,” tulis Paulus, “untuk kemuliaan Allah” (ay. 7). Saat kita memohon pertolongan Allah, Dia akan menuntun suara kita masing-masing untuk dapat sehati melangkah bersama dan memuliakan nama-Nya.
Oleh: Patricia Raybon
Renungkan dan Doakan
Siapa yang dapat bernyanyi bersama Anda dalam puji-pujian kepada Allah? Bagaimana Anda dapat mengutamakan kesehatian dalam kehidupan bersama sebagai anggota umat Allah?
Bukalah hatiku, ya Allah, untuk mau melangkah seirama dengan sesamaku, demi memuliakan-Mu.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Dalam Roma 15, Paulus menyatakan bahwa kesatuan terjadi ketika orang percaya “hidup seia sekata, masing-masing bersikap seperti Kristus terhadap yang lain” (ay. 5 FAYH). Kesatuan tidak ditemukan pada kesamaan latar belakang, kepercayaan, atau pilihan, melainkan pada teladan kasih Kristus yang rela menyerahkan diri-Nya. Tujuan kesatuan ini adalah penyembahan kepada Allah: “sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (ay. 6). Kesatuan itu sendiri adalah bentuk penyembahan: “Terimalah satu akan yang lain . . . untuk kemuliaan Allah” (ay. 7).
Kitab Roma secara khusus menyoroti kesatuan antara orang Yahudi dan non-Yahudi. Paulus mengutip Perjanjian Lama untuk menegaskan bahwa janji Allah tergenapi ketika kedua kelompok ini menyembah dan memuliakan Allah yang sama (ay. 8-12). Dalam visi Paulus, kesatuan orang percaya—Yahudi dan non-Yahudi—dalam penyembahan adalah gambaran pemulihan seluruh ciptaan, ketika semua bersatu dalam memuji Sang Pencipta (lihat Roma 8:18-23; Yesaya 45:23). –Monica La Rose
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar