• Pengorbanan dalam Kerendahan Hati 2026-04-20

    Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini? –1 Tawarikh 17:16

    Baca: 1 Tawarikh 17:16-22

    Seorang pilot bersama dua putrinya terbang dari Soldotna, Alaska, untuk melihat-lihat pemandangan. Namun, pesawat kecil yang dikemudikannya tidak pernah tiba di tujuan. Beberapa pilot lokal kemudian melakukan pencarian darurat, dan salah satu dari mereka yang bernama Terry Godes berhasil menemukan bangkai pesawat yang hampir tenggelam di sebuah danau yang sebagian airnya membeku. Ketiga anggota keluarga itu, yang bertahan hidup dengan berdiri di atas sayap pesawat selama berjam-jam, akhirnya diselamatkan oleh Garda Nasional. Godes rela mengorbankan waktu dan tenaganya demi orang lain, yang berujung pada penyelamatan para korban. Dengan rendah hati, ia berkata, “Saya hanya seseorang yang lebih dahulu menemukan pesawat itu.”

    Raja Daud juga banyak berkorban bagi bangsa Israel, termasuk berperang demi menyelamatkan mereka dari tangan musuh (1 Taw. 14:8-17). Nabi Natan menyampaikan kepada Daud bahwa “takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya” melalui keturunannya, yang akhirnya digenapi dalam Kristus (17:14; lihat Lukas 1:30-33). Daud menjawab dengan rendah hati, “Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?” (1 Taw. 17:16). Ia menyadari bahwa hidupnya ditopang oleh Allah dan kehendak-Nya (ay. 19), dan bahwa sejatinya Allah sendiri yang menyelamatkan dan menebus Daud serta bangsanya (ay. 20-22).

    Yesus juga “merendahkan diri-Nya” dan mempersembahkan nyawa-Nya sebagai korban yang terbesar demi kita (Flp. 2:8). Dengan pertolongan-Nya, kiranya kita rela mengorbankan hidup dalam kerendahan hati demi sesama.

    Oleh: Tom Felten

    Renungkan dan Doakan

    Mengapa kerendahan hati di hadapan Allah begitu penting? Bagi Anda, seperti apa kerelaan untuk berkorban bagi orang lain?

    Allah yang penuh kasih, mampukanlah aku untuk rela berkorban dengan rendah hati, bagi-Mu dan bagi sesamaku.

    Amin 

    Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu 

    WAWASAN

    Kitab 1–2 Samuel, 1–2 Raja-Raja, dan 1–2 Tawarikh menyajikan dua pendekatan berbeda tentang sejarah Kerajaan Israel. Dalam 1–2 Samuel dan 1–2 Raja-Raja, fokusnya pada raja-raja dan nabi-nabi Israel—dari Saul hingga raja-raja terakhir di masa kerajaan yang terpecah. Sebaliknya, 1–2 Tawarikh lebih menyoroti raja-raja Yehuda, para imam, dan perkembangan Bait Suci.

    Menurut tradisi Yahudi, penulis 1 Tawarikh adalah Ezra. Ia menekankan pentingnya doa Daud (1 Tawarikh 17:16-22; lihat juga 2 Samuel 7:18-29). Doa ini menyerupai doa seorang imam, karena menitikberatkan pada Yahweh sebagai Allah yang setia memegang perjanjian-Nya dengan Israel. Daud dengan rendah hati berkorban bagi rakyat, tetapi ia mengakui bahwa hanya Allah yang menebus umat-Nya: “Engkau telah membuat umat-Mu Israel menjadi umat-Mu untuk selama-lamanya dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Allah mereka” (1 Tawarikh 17:22).

    Saat kita merenungkan pengorbanan terbesar yang Yesus lakukan bagi kita, kita dapat merespons dengan kerendahan hati dan kerelaan untuk berkorban bagi-Nya dan sesama. –Bill Crowder

    Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti 

    Our Daily Bread

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia
Pengamat Sosial

Pengorbanan dalam Kerendahan Hati 2026-04-20

Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini? –1 Tawarikh 17:16 Baca: 1 Tawa...

Halaman FB