• Ketergantungan yang Penuh 2026-04-11

    Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. –Mazmur 63:9

    Baca: Mazmur 63

    Saat saya menulis kata-kata ini, Winston, anjing kami, berbaring meringkuk di kaki saya. Ia mengamati perpindahan saya dari kursi di sampingnya ke meja makan. Baginya, jarak tiga meter saja sudah terasa terlalu jauh. Belakangan ini saya sering bepergian karena pekerjaan, dan saya kira hal itu mulai mempengaruhi Winston. Jika saya memberi isyarat akan pergi, atau mengucapkan kata “pergi,” ia langsung melekat dan hampir tidak mau lepas dari saya.

    Dalam hubungan antarmanusia, sikap “clingy” (melekat) biasanya bukan pujian. Namun, lewat ketergantungan anjing saya, saya melihat gambaran nyata dari kepercayaan yang penuh, seperti yang digambarkan dalam Mazmur 63.

    Di sini, Daud melukiskan ketergantungan penuh kasih kepada Allah: “Ya Allah, Engkaulah Allahku,” katanya di ayat 2, “aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu.” Di ayat 4, ia menambahkan, “Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.” Mendekati akhir, kita membaca, “Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku” (ay. 9).

    Seperti Daud, saya ingin bergantung sepenuhnya kepada Allah dan sungguh-sungguh mencari-Nya. Kadang saya berhasil melakukannya, tetapi di lain waktu hati saya bisa menjadi dingin dan kurang percaya. Namun, ketika saya berbalik dari ketidakpercayaan yang rapuh dan kembali kepada-Nya, saya diingatkan bahwa hanya Dia yang dapat memuaskan saya. “Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan” (ay. 6) oleh Dia saja.

    Oleh: Adam R. Holz

    Renungkan dan Doakan

    Apa yang menolong Anda untuk lebih sungguh mengalami karakter Allah sebagai Bapa yang penuh kasih? Bagaimana mempercayai Allah menolong kita bergantung kepada-Nya?

    Ya Bapa, terima kasih untuk kasih-Mu yang melimpah. Ajarlah aku untuk bergantung kepada-Mu dalam segala hal yang kulakukan.

    Amin 

    Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu 

    WAWASAN

    Ayat pertama Mazmur 63 mengungkapkan siapa penulis dan latar belakang nyanyian tersebut: “Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda.” Sangat mungkin Daud menulis mazmur ini saat melarikan diri dari Absalom, anaknya, yang hendak menggulingkan Daud dan merebut takhtanya (2 Samuel 15–19). Di tengah krisis pribadi dan politik, Daud secara puitis dan mendalam menyatakan ketergantungannya kepada Allah.

    Ketidaknyamanan fisik, emosional, relasional, atau spiritual sering kali mengindikasikan bahwa kita patut bergantung kepada-Nya. Hari ini, kita yang kesepian dan tersesat dapat menjadikan mazmur ini sebagai “ruang doa di tengah gurun” yang menolong kita mengungkapkan doa-doa yang penuh ketergantungan. Di tengah keputusasaan, kita dapat berkata, “Aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu. . . . Jiwaku melekat kepada-Mu” (Mazmur 63:2,9). Dengan mengakui dosa-dosa kita, kita akan melihat bahwa hanya Allah yang sanggup memuaskan kita di tengah keringnya gurun kehidupan. –Arthur Jackson

    Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti 

    Our Daily Bread

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia
Pengamat Sosial

Ketergantungan yang Penuh 2026-04-11

Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. –Mazmur 63:9 Baca: Mazmur 63 Saat saya menulis kata-kata ini, Winston, anjing kami, ...

Halaman FB