• Sikap Berdoa 2025-10-18

    Lalu berlututlah Yosafat dengan mukanya ke tanah . . . dan menyembah kepada Tuhan. –2 Tawarikh 20:18

    Baca: 2 Tawarikh 20:5-12

    Perjuangan panjang melawan suatu penyakit kronis telah membuat Jimmy menderita. Walau rindu meluangkan waktu bersama Allah setiap pagi, dengan berdoa dan merenungkan firman-Nya, Jimmy kesulitan menemukan posisi duduk yang tidak membuatnya kesakitan. Ia sudah menggeser tubuhnya dari satu sisi ke sisi yang lain, tetapi tidak juga menemukan posisi yang nyaman. Akhirnya, dalam keputusasaannya, ia berlutut. Namun, tanpa diduga, sikap seperti berdoa itu ternyata dapat mengurangi rasa sakit pada tubuhnya. Jadi, di hari-hari berikutnya Jimmy pun mengambil waktu bersama Allah dengan berlutut—posisi yang membuatnya nyaman sembari berdoa kepada-Nya.

    Yosafat, raja Yehuda, juga bergumul—bukan dengan rasa sakit, melainkan dengan ancaman dari musuh-musuhnya (2 Taw. 20:1-2). Raja “menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan” (ay. 3). Seluruh bangsa Yehuda juga ikut mencari “pertolongan dari pada Tuhan” (ay. 4). Allah mendengar doa-doa mereka, lalu Roh-Nya menghinggapi seorang Lewi bernama Yahaziel, yang menyampaikan pesan penghiburan Allah bagi sang raja: “Janganlah kamu takut dan terkejut . . . Tuhan akan menyertai kamu” (ay. 15,17). Kemudian “berlututlah Yosafat dengan mukanya ke tanah” dan semua orang “sujud di hadapan Tuhan dan menyembah kepada-Nya” (ay. 18).

    Pada masa-masa yang sulit dan menyakitkan, kita dapat mengalami kedekatan dengan Allah melalui cara yang ajaib. Ketika Dia menolong kita untuk tunduk pada kehendak-Nya dalam sikap hati yang penuh doa, kita dapat mengalami penghiburan dan damai sejahtera di dalam Dia.

    Oleh: Tom Felten

    Renungkan dan Doakan

    Bagaimana Allah telah menghibur Anda, saat Anda berdoa kepada-Nya? Adakah hal menyakitkan yang ingin Anda bawa kepada-Nya hari ini?

    Allah Maha Kasih, terima kasih, karena Engkau menjumpai dan menghiburku di saat aku berdoa kepada-Mu.

    WAWASAN

    Yosafat adalah raja Yehuda yang cukup membingungkan. Kerajaan Yehuda dan Israel baru terpecah sekitar enam dekade sebelumnya, tetapi Yosafat dengan konyolnya memilih untuk berperang bersama Ahab, Raja Israel yang menyembah berhala (2 Tawarikh 18:3). Akibatnya, pasukan gabungan mereka dikalahkan dan Ahab terbunuh (ay. 33-34).

    Namun, di sebagian besar masa pemerintahannya, Yosafat dikenal sebagai raja yang mengikuti Allah. Ketika musuh besar berkumpul melawan Yehuda (20:1-3), ia langsung mencari Allah. Di hadapan rakyat, ia berdoa dan mengingatkan mereka pada janji Allah kepada Abraham, leluhur mereka (ay. 5-9). Meski dalam tekanan, Yosafat tahu bahwa Allah dapat diandalkan.

    Ketika kita sendiri menghadapi tantangan, kita juga dapat menemukan penghiburan dengan mencari wajah Allah dalam doa. –Tim Gustafson

    Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti 

    Our Daily Bread

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia
Pengamat Sosial

Harta yang Disimpan di Surga 2026-02-04

Kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. –1 Timotius 6:7 Baca: 1 Timotius 6:6-12, 17-...

Halaman FB