• Menantikan Allah 2025-11-14

    “Tuhan adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. –Ratapan 3:24

    Baca: Ratapan 3:22-33

    Ketika sebuah negara dilanda perang saudara, pihak berwenang merekrut seorang pria untuk masuk dalam wajib militer. Namun, orang itu menolak dan berkata: “Saya tidak ingin ikut serta dalam menghancurkan [negara saya].” Ia pun memutuskan untuk meninggalkan negaranya. Meski demikian, karena tidak memiliki visa, ia pun terjebak di bandara negara lain. Selama berbulan-bulan, staf bandara memberinya makanan, dan ribuan orang tekun mengikuti cuitannya di media sosial tentang pengalamannya berkeliling dari terminal ke terminal, merajut syal, sambil terus menggantungkan harapannya. Mendengar penderitaannya yang tak kunjung usai, sebuah komunitas di Kanada menggalang dana dan mencarikannya pekerjaan serta tempat tinggal.

    Kitab Ratapan berisi seruan hati Yeremia, yang menantikan Allah dan akhir dari penghukuman-Nya atas dosa bangsanya. Sang nabi tetap percaya kepada Allah yang kekal, yang ia tahu dapat diandalkannya. “Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya” (3:25). Umat Allah dapat tetap memiliki pengharapan bahkan ketika berbagai masalah terasa menyesakkan dada dan kelegaan tampak mustahil. Meski mereka mungkin perlu menerima hukuman Allah dengan rela, mereka tetap dapat berpegang pada kenyataan bahwa “mungkin harapan masih ada” (ay. 29 BIMK). Orang-orang yang mengenal Allah dapat mengalami pengharapan yang bersumber dari-Nya. “Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan” (ay. 26).

    Meski belum mendapat jawaban atau jalan keluar yang jelas, marilah kita menantikan pertolongan Allah yang telah berulang kali membuktikan kesetiaan-Nya kepada kita.

    Oleh: Winn Collier

    Renungkan dan Doakan

    Situasi apa yang Anda bayangkan, saat Anda berpikir tentang menantikan Allah? Mengapa hal itu sulit, dan bagaimana Allah hadir dalam momen tersebut?

    Ya Allah, tolonglah aku dengan sabar menantikan-Mu, untuk menggenapi kehendak-Mu di dalam hidupku.

    Amin 

    Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu 

    WAWASAN

    Nabi Yeremia menulis dengan kesedihan yang mendalam tentang kehancuran Yerusalem di tangan Babel pada tahun 586 SM dan pembuangan kaum sebangsanya: “Ah, betapa terpencilnya kota itu, yang dahulu ramai! . . . Yehuda telah ditinggalkan penduduknya karena sengsara dan karena perbudakan yang berat” (Ratapan 1:1,3). Pelayanan Yeremia sebagai nabi kepada bangsa Yehuda dimulai pada masa pemerintahan Raja Yosia, seorang raja yang hidup benar di hadapan Allah (Yeremia 1:1-3). Namun, pembaruan rohani yang dipimpin Yosia tidak bertahan lama. Rakyat kembali menyembah berhala, dan Yeremia pun menubuatkan pembuangan Israel selama 70 tahun serta janji pemulihan setelahnya.

    Meski Yeremia menderita secara pribadi maupun dalam pelayanannya sebagai nabi, ia tetap mengungkapkan iman dan pengharapannya yang teguh kepada Allah. Ia menulis, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan 3:22–23). Kita juga dapat menunjukkan pengharapan agung ini sembari menanti dengan sabar dan percaya kepada karya Allah dalam hidup kita. –Alyson Kieda

    Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti 

    Our Daily Bread

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia
Pengamat Sosial

Harta yang Disimpan di Surga 2026-02-04

Kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. –1 Timotius 6:7 Baca: 1 Timotius 6:6-12, 17-...

Halaman FB