Aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. –Habakuk 3:18
Baca: Habakuk 3:16-19
Para ilmuwan mempelajari resiliensi (daya tahan) dari 16 peradaban di berbagai belahan dunia, seperti kawasan Yukon dan pedalaman Australia. Mereka menganalisis ribuan tahun catatan arkeologi serta menelusuri dampak kelaparan, peperangan, dan perubahan iklim yang terjadi pada rentang waktu tersebut. Satu faktor menonjol yang mereka temukan adalah frekuensi kemunduran yang dialami peradaban tersebut. Sekilas, hal ini mungkin tampak melemahkan komunitas tersebut. Namun, para peneliti justru menemukan yang sebaliknya—komunitas yang sering menghadapi kesulitan cenderung lebih tahan banting dan mampu pulih lebih cepat dari tantangan di masa depan. Tampaknya, tekanan dan stres dapat membentuk resiliensi.
Nabi Habakuk memahami arti resiliensi. Ketika ia memikirkan kehancuran yang akan menimpa Yehuda, ia melukiskan gambaran yang suram: “ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, . . . tidak ada lembu sapi dalam kandang,” dan tanah yang tandus (3:17). Namun, di tengah lenyapnya kemakmuran duniawi, sang nabi menyatakan, “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku” (ay. 18). Sukacitanya tidak tergantung pada keadaan atau kenikmatan duniawi, melainkan berakar pada karakter Allah yang tidak pernah berubah dan juga keselamatan-Nya. Dalam musim-musim yang terkelam, sang nabi memilih untuk bersukacita dan memiliki resiliensi yang lebih kuat.
Seperti Habakuk dan berbagai peradaban dunia tersebut, ketahanan rohani kita bertumbuh melalui kesulitan yang berulang kali kita hadapi. Ketika kita menghadapi masa-masa yang sukar dalam hidup, mari tetap berpegang pada pengharapan kita di dalam Allah dan mengingat bahwa Dia senantiasa menyertai kita. Dia memakai setiap tantangan yang kita hadapi untuk menumbuhkan sukacita dan resiliensi iman kita.
Oleh: Marvin Williams
Renungkan dan Doakan
Bagaimana Anda dapat menemukan pengharapan dalam Allah? Doa sukacita seperti apa yang dapat Anda naikkan di tengah kesulitan hidup yang ada?
Allah yang berbelas kasih, kiranya aku menemukan pengharapan di dalam-Mu, ketika hidup terasa tandus dan hampa.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan Gbu
WAWASAN
Sebagian besar isi Kitab Habakuk yang singkat terasa kelam dan menggentarkan. Kitab ini dimulai dengan seruan Habakuk, “Ya TUHAN, sampai kapan aku harus berseru meminta pertolongan?” (1:2 BIMK). Allah menjawab dengan memberitahukan hal-hal mengerikan yang akan menimpa umat-Nya (ay. 5-11). Habakuk terkejut dengan jawaban itu dan mengeluh kepada Allah: “Bagaimana Engkau tahan melihat orang-orang jahat yang kejam itu?” (ay. 13 BIMK).
Namun, pada pasal 3, sang nabi terdorong untuk memuji Allah yang dahsyat dan penuh kuasa itu: “Ya TUHAN, kudengar tentang perbuatan-Mu, maka rasa khidmat memenuhi hatiku” (ay. 2 BIMK). Ia mengingat bagaimana Allah membuat “bumi bergetar” (ay. 6 BIMK) dan “dengan geram . . . menjelajahi bumi” (ay. 12 BIMK). Habakuk menyadari bahwa kuasa ini akan dinyatakan demi kepentingan umat-Nya. “Engkau melangkah maju untuk membebaskan umat-Mu,” katanya. “Kaupukul jatuh pemimpin orang durjana” (ay. 13 BIMK). Ia pun menutup dengan penuh harapan: “ALLAH Tuhanku itu kekuatanku” (ay. 19).
Hari ini, ketika kita menghadapi kesulitan, kita juga dapat berpegang pada pengharapan kita dalam Allah dan selalu mengingat bahwa Dia menyertai kita. –Tim Gustafson
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar