Semoga aku jangan sampai berdosa terhadap Tuhan karena tidak mendoakan kamu. –1 Samuel 12:23 (BIMK)
Baca: 1 Samuel 12:19-24
Seorang wanita terlihat sangat gelisah saat memeriksakan giginya ke dokter. Beban keluarga yang berat tampak jelas membayangi wajahnya. Dokter gigi yang merawatnya merasakan kegelisahan itu, lalu menanyakan keadaannya. Setelah wanita itu bercerita, sang dokter bertanya dengan lembut, “Bolehkah saya mendoakan Anda?” Kemudian, dokter higiene gigi yang masuk ke ruangan pun ikut mendoakannya. Setelah dua kali didoakan, dan perawatan giginya selesai, wanita itu meninggalkan ruangan dengan menyadari bahwa dirinya sungguh dipedulikan.
Mendoakan orang lain adalah salah satu bentuk kepedulian yang paling bermakna. Lewat doa, kita mengundang Pribadi yang paling berkuasa, yakni Bapa Surgawi kita, untuk hadir dan bekerja dalam kehidupan seseorang. Dalam 1 Samuel 12, Nabi Samuel menghadapi orang-orang Israel yang diliputi rasa takut dan penyesalan karena telah meminta seorang raja (ay. 19). Kepada mereka, sang nabi berkata, “Jangan takut” (ay. 20), sembari menegaskan kebaikan Allah atas mereka dengan berkata, “Semoga aku jangan sampai berdosa terhadap Tuhan karena tidak mendoakan kamu” (ay. 23 BIMK).
Kita juga memiliki kesempatan dan panggilan berharga untuk menjadi pendoa bagi sesama. Baik dalam keheningan hati maupun lewat suara yang keras, kita memuliakan Allah dengan memohon kepada-Nya untuk menjamah mereka yang membutuhkan pertolongan.
Oleh: Dave Branon
Renungkan dan Doakan
Bagaimana Anda dapat menaikkan doa yang tulus dan penuh kepedulian saat ini? Menurut Anda, apa maknanya bagi seseorang, ketika mereka tahu bahwa Anda mendoakan mereka?
Ya Allah, terima kasih, karena Engkau menyatakan bahwa “doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yak. 5:16). Kumohon, tolonglah aku menjadi pendoa yang benar.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Meski Samuel adalah seorang hakim dan nabi yang berintegritas, anak-anaknya “menerima suap dan memutarbalikkan keadilan” (1 Samuel 8:3). Ini mendorong “semua tua-tua Israel” meminta seorang raja diangkat untuk memimpin mereka (ay. 4). Samuel tidak senang, lalu meminta nasihat Allah dalam doa. Allah berfirman pada Samuel, “Bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka” (ay. 7).
Lima ratus tahun sebelum Samuel, Allah pernah berfirman pada Israel, “[Ketika] engkau berkata: Aku mau mengangkat raja atasku, seperti segala bangsa yang di sekelilingku, maka hanyalah raja yang dipilih TUHAN, Allahmu, yang harus kauangkat atasmu” (Ulangan 17:14-15). Namun, bukan berarti Allah setuju bahwa Israel mengangkat raja.
Samuel menjabarkan masalah-masalah yang akan ditimbulkan raja kepada mereka (1 Samuel 8:9-18), tetapi mereka “menolak mendengarkan perkataan Samuel” (ay. 19). Meski demikian, Samuel terus melayani Allah dengan menggembalakan Israel dan mendoakan mereka (12:19). Kita pun menghormati Allah ketika kita berdoa bagi kebutuhan orang lain. –Tim Gustafson
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar