Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen. –Kisah Para Rasul 11:26
Baca: 1 Petrus 4:12-19
Pemilik tim bola basket NBA Dallas Mavericks pernah menawarkan 100.000 dolar AS (lebih dari 1,6 milyar rupiah) kepada seorang pembawa acara olahraga asal Chicago untuk secara resmi mengganti namanya menjadi “Dallas Maverick.” Ia juga berjanji akan menyumbangkan jumlah yang sama kepada badan amal yang dipilih oleh sang pembawa acara. Setelah mempertimbangkan dengan serius, pembawa acara tersebut tetap teguh pada pendiriannya dan menolak tawaran itu. Ia menjelaskan, “Kalau saya mengiyakan, berarti saya mau melakukan apa saja demi uang, dan itu mengusik hati nurani saya. Nama saya adalah hak istimewa saya sejak lahir. Saya ingin menjaga integritas dan kredibilitas saya.”
Sebagaimana nama pembawa acara tadi adalah hak istimewanya, para pengikut Yesus mula-mula menyandang sebutan “Kristen” sebagai hak istimewa mereka secara rohani. Selama setahun, Barnabas dan Saulus melayani di Antiokhia, dan melalui pemberitaan Injil, jemaat pun bertumbuh. Cara hidup jemaat Antiokhia begitu menyerupai Kristus, sampai-sampai orang-orang yang belum percaya menyebut mereka “Kristen” (Kis. 11:26). Nama itu berarti “milik Kristus.” Namun, menyandang nama tersebut juga membawa risiko penganiayaan. Petrus menguatkan orang-orang percaya agar “janganlah . . . malu” atas hak istimewa mereka dan atas penderitaan karena menyandang nama itu (1 Ptr. 4:16).
Bagi orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, nama “Kristen” adalah keistimewaan rohani yang tak ternilai. Tidak ada jumlah uang, penderitaan, atau tekanan apa pun yang seharusnya membuat kita melepaskan nama itu. Dengan bersandar pada pemeliharaan Allah, kita dipanggil untuk membawa kemuliaan bagi nama Kristus dalam hidup kita sehari-hari.
Oleh: Marvin Williams
Renungkan dan Doakan
Menurut Anda, apa yang terlintas dalam benak orang, ketika mereka mendengar sebutan “Kristen”? Bagi Anda sendiri, apa artinya disebut sebagai orang Kristen?
Tuhan Yesus, tolonglah aku mempunyai cara hidup yang sungguh-sungguh memuliakan nama-Mu.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu....
WAWASAN
Bagi orang non-Yahudi yang menjadi Kristen, penganiayaan tentu sesuatu yang baru dan juga mengejutkan. Sebaliknya, bangsa Yahudi sudah pernah menderita sebagai kelompok minoritas dari generasi ke generasi, sehingga mereka memahami arti menderita bahkan mati bagi iman mereka. Namun, orang non-Yahudi selama ini hidup nyaman dan tenang dalam budaya mereka sebelum percaya kepada Yesus. Mengalami penderitaan mungkin membuat mereka meragukan kebenaran Injil, sekiranya mereka berpikir bahwa kemurahan Allah akan menjadikan mereka hidup makmur. Untuk merespons sikap tersebut, Rasul Petrus menekankan bahwa menderita bagi Kristus bukanlah sesuatu yang “luar biasa” (1 Petrus 4:12) atau “aneh” (AYT). Justru para pengikut Kristus dapat memandang penderitaan itu sebagai jalan untuk ikut serta dalam penderitaan-Nya, dan boleh menantikan harinya ketika mereka sendiri akan dimuliakan bersama Dia (ay. 13-14).
Sebagai orang percaya, kita adalah milik-Nya, sehingga Allah akan menolong kita hidup dengan cara yang memuliakan nama-Nya. –Monica La Rose
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar