Aku akan mengikuti petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab Engkau melapangkan hatiku. –Mazmur 119:32
Baca: Mazmur 119:30-41
Dalam tulisannya yang berjudul Confessions, Agustinus bergumul dengan pertanyaan: bagaimana mungkin Allah menjalin relasi dengannya? Bagaimana Sang Pencipta alam semesta dapat masuk ke dalam hatinya yang kecil dan berdosa? Ia pun memohon kepada Allah agar hal itu menjadi mungkin, dengan berdoa, “Kediaman jiwaku ini sempit. Lapangkanlah ya Allah, agar Engkau dapat memasukinya. Hatiku sudah hancur dan rusak! Perbaikilah! Ada hal-hal di dalamnya yang tidak berkenan di mata-Mu. Aku mengakui dan menyadarinya. Namun, siapa yang akan menyucikannya, atau kepada siapa aku dapat berseru, kecuali kepada-Mu?”
Hari ini, kita mengenal Agustinus sebagai seorang filsuf dan teolog besar yang dihormati sepanjang sejarah. Namun, ia melihat dirinya sendiri hanya sebagai seorang manusia yang telah diubahkan oleh keajaiban kasih Allah yang rindu mengenalnya.
Dalam Mazmur 119, pemazmur juga takjub akan penyingkapan Allah tentang diri-Nya, khususnya melalui Kitab Suci (ay. 18). “Engkau melapangkan hatiku” (ay. 32), seru sang pemazmur dengan penuh syukur. Hanya karena kemurahan Allah yang melapangkan hati manusia, kita dapat berjalan dengan sukacita dalam jalan yang Dia tunjukkan (ay. 45). Dia memalingkan hati kita dari hal-hal yang sia-sia (ay. 36-37) kepada “petunjuk perintah-perintah-[Nya],” yang memberi kita “kesukaan” yang tak terhingga (ay. 35 BIMK).
Kita ini kecil, dan hati kita mudah goyah. Namun, ketika kita mengarahkan kerinduan hati kita kepada Allah (ay. 34,36), Dia akan membimbing kita ke jalan yang menuju kepada sukacita dan kebebasan sejati.
Oleh: Monica La Rose
Renungkan dan Doakan
Bagaimana Allah telah “melapangkan hati” Anda? Apa aspek dalam hidup Anda yang membutuhkan pertolongan Allah, agar dapat bertumbuh sesuai kehendak-Nya?
Ya Allah, terima kasih, karena Engkau membuka hatiku untuk mengalami kebesaran-Mu. Lapangkanlah hatiku ini, dari hari ke hari.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Gambaran “berjalan” adalah salah satu metafora Alkitab paling umum untuk mendeskripsikan gaya hidup seseorang—baik dalam pergaulan yang intim dengan Allah (lihat Kejadian 5:24; 6:9; Mazmur 1:1; 15:1-2) atau dalam perlawanan terhadap Dia (Amsal 4:14; 1 Yohanes 1:6). Mazmur 119 dimulai dengan gambaran ini, yang menekankan bahwa “orang-orang . . . yang hidup [berjalan, AYT] menurut Taurat TUHAN” sungguh berbahagia (ay. 1). Mazmur ini melukiskan gambaran nyata tentang hidup yang bergaul dan berjalan dekat dengan Allah melalui kedekatan dan ketaatan kepada Alkitab. Di ayat 32, gambaran ini menjadi makin hidup tatkala pemazmur mengganti berjalan menjadi berlari (AYT), yang berarti tidak hanya menaati dengan tekun tetapi juga mengikuti jalan-jalan Allah dengan segera dan bersemangat. Tak seperti mereka yang kakinya “lari menuju kejahatan” (lihat Amsal 1:16; 6:18), pemazmur di Mazmur 119:32 berlari dengan leluasa dan sukacita pada jalan ketaatan kepada Allah, karena sudah dimerdekakan oleh kasih-Nya dan dibuat terpesona oleh keindahan-Nya. –Monica La Rose
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar