• Berani Bersuara bagi Yesus 2026-01-17

    Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. –Matius 10:38

    Baca: Yohanes 13:36-38; 21:18-19

    Pada tahun 155 M, Polikarpus, seorang bapa gereja mula-mula, menghadapi ancaman hukuman mati dengan dibakar hidup-hidup karena imannya kepada Kristus. Ia menjawab tantangan mereka yang ingin menghukumnya dengan berkata: “Aku telah melayani-Nya selama 86 tahun, dan Dia tidak pernah mengecewakanku. Bagaimana mungkin sekarang aku menghujat Sang Raja yang telah menyelamatkanku?” Kata-kata Polikarpus dapat menginspirasi kita yang sedang bergumul dengan pencobaan karena iman kita kepada Yesus Kristus.

    Beberapa jam sebelum kematian Kristus, Petrus dengan lantang mengikrarkan kesetiaannya kepada Yesus: “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” (Yoh. 13:37). Yesus, yang mengenal Petrus lebih baik daripada Petrus mengenal dirinya sendiri, berkata: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (ay. 38). Namun, setelah kebangkitan Kristus, Petrus yang pernah menyangkal-Nya bangkit sebagai pelayan Tuhan yang berani, bahkan memuliakan Dia melalui kematiannya sendiri (lihat 21:16-19).

    Jadi, siapa yang lebih Anda serupai—Polikarpus atau Petrus? Jika kita jujur, banyak dari kita lebih mirip Petrus—kehilangan keberanian untuk bersuara atau mengakui keberadaan kita sebagai orang percaya. Namun, pengalaman-pengalaman tersebut—yang bisa saja terjadi di ruang kelas, di tengah kantor, atau dalam pergaulan—tidak perlu membuat kita terus terpuruk. Setelah jatuh, kita dapat bangkit kembali dan sungguh-sungguh berpaling kepada Yesus, Pribadi yang telah mati dan bangkit bagi kita. Dia akan menolong kita untuk tetap setia kepada-Nya dan berani bersuara bagi-Nya di tempat-tempat yang sulit.

    Oleh: Arthur Jackson

    Renungkan dan Doakan

    Dalam situasi apa Anda merasa perlu lebih berani untuk bersuara bagi Yesus? Apa yang dapat menolong Anda menjadi saksi yang setia bagi-Nya?

    Bapa di surga, mampukanlah aku untuk hidup dengan keberanian, bersuara bagi Anak-Mu yang kupercayai dan kukasihi.

    Amin 

    Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu 

    WAWASAN

    Dalam Yohanes 13:36-38, Yesus berfokus pada Simon Petrus dan kebutuhannya akan kekuatan di hari-hari yang akan datang. Peringatan-Nya yang penuh kasih kepada Petrus (ay. 38) seharusnya menyadarkan sang murid, tetapi alih-alih bersandar pada kekuatan Sang Guru, Petrus justru berusaha menjalani hari-hari gelap itu dengan kekuatannya sendiri. Sekalipun ia mati-matian berusaha menepati janjinya untuk “memberikan nyawa[nya] bagi” Kristus (ay. 37)—dengan memotong telinga Malkhus, pelayan Imam Besar (Yohanes 18:10)—usahanya gagal dan ia pun melarikan diri dengan murid-murid lainnya (Markus 14:50).

    Hanya dengan kekuatan Allah, kita dapat berdiri teguh dan berani pada masa dan situasi yang sulit. Petrus kelak menunjukkan keberanian itu ketika para pemimpin agama menegurnya karena berkhotbah dalam nama Yesus. Pada waktu itu, mereka pun mengakui pengaruh Kristus pada sang murid yang sempat jatuh dan dipulihkan itu (Kisah Para Rasul 4:13). Pengaruh-Nya dalam hidup kita juga sanggup menolong kita menghadapi tantangan hidup dengan keberanian iman. –Bill Crowder

    Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti 

    Our Daily Bread

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia
Pengamat Sosial

Istirahat yang Menyegarkan 2026-02-05

Marilah kita berusaha sungguh-sungguh untuk menerima istirahat yang dijanjikan Allah itu. Jangan sampai seorang pun dari kita gagal. –Ibrani...

Halaman FB