Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. –Wahyu 21:3
Baca: Wahyu 21:1-4
Blaise Pascal pernah berkata bahwa dalam diri manusia ada “kehampaan yang tak terbatas” yang hanya dapat diisi oleh Allah yang tak terbatas. Doa Agustinus menggemakan hal yang sama: “Engkau telah menciptakan kami bagi diri-Mu, ya Tuhan, dan hati kami tidak akan pernah tenang sebelum menemukan peristirahatannya di dalam Engkau.” Dalam Alkitab, Daud sendiri menyatakan bagaimana seluruh diri kita “rindu” kepada Allah, bagaikan orang yang haus akan air di tengah padang gurun (Mzm. 63:2).
Namun, yang mengejutkan, bukan hanya manusia yang merindukan Allah—Allah pun merindukan manusia. Meski Dia adalah Pencipta alam semesta yang tak terbatas dan tidak kekurangan apa pun di luar diri-Nya, Alkitab menyatakan bahwa Dia rindu memiliki kita kembali saat kita tersesat (Yak. 4:4-5). Berulang kali juga dikatakan bahwa Dia menginginkan suatu umat kepunyaan-Nya sendiri (Kel. 6:6; Ibr. 8:10).
Kerinduan inilah yang telah menggerakkan misi Allah selama ribuan tahun. Dia mengutus para nabi untuk memanggil kembali umat-Nya yang menyimpang, hingga pada akhirnya mengutus Anak-Nya untuk mencari domba-domba-Nya yang terhilang (Yes. 30:18; Luk. 19:10). Kabar baiknya, kerinduan ini akan terpenuhi pada kesudahan zaman. “Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka,” dan Allah akan diam bersama manusia (Why. 21:2-3).
Manusia merindukan Allah, dan tak ada yang dapat menggantikan-Nya. Allah merindukan manusia, dan tak ada yang dapat menggantikan kita di hati-Nya. Jadi, tidak heran jika ada sukacita besar di surga ketika seorang pendosa bertobat (Luk. 15:7). Ketika kita berlari menyambut tangan Allah yang terentang, kerinduan kita dan Allah sama-sama terpenuhi.
Oleh: Sheridan Voysey
Renungkan dan Doakan
Bagaimana perasaan Anda, ketika menyadari bahwa Allah “merindukan” Anda? Bagaimana kerinduan-Nya mendorong Anda untuk rela bertobat dari kesalahan yang Anda perbuat?
Bapa Surgawi, terima kasih, karena Engkau begitu merindukanku untuk mengenal-Mu.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Setelah Allah menciptakan langit dan bumi, Dia menempatkan Adam dan Hawa di taman Eden. Namun, keduanya jatuh dalam dosa, sehingga rasa sakit, perseteruan, dan maut pun masuk ke dunia (Kejadian 1–3). Dalam Kitab Yesaya, sang nabi menyatakan bahwa kelak Allah akan menciptakan “langit yang baru dan bumi yang baru” ketika “hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi” (65:17; lihat juga 66:22). Di kemudian hari, Petrus menulis tentang “langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran” (2 Petrus 3:13).
Dalam Wahyu 21, Yohanes mendapat penglihatan akan langit dan bumi yang baru; di sana “tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita” (ay. 4). Dalam penglihatan ini, Yesus—”yang duduk di atas takhta itu” (ay. 5)—berfirman, “Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku" (ay. 7). Allah bersuka ketika kita bertobat dari dosa dan memohon pengampunan-Nya. Mereka yang melakukannya akan menikmati bumi yang baru tersebut bersama Kristus selamanya. –Alyson Kieda
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar