Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. –Filipi 4:2
Baca: Filipi 4:1-3
Di kawasan barat Amerika pada akhir tahun 1800-an, pencarian tulang dinosaurus sempat memicu “Perang Tulang,” persaingan sengit antara dua paleontolog yang berlomba menemukan fosil paling bersejarah. Seorang penulis mencatat bahwa keduanya “menggunakan cara-cara curang untuk saling mengalahkan, termasuk suap, pencurian, dan penghancuran tulang.” Dalam usaha menjatuhkan satu sama lain, kedua ahli itu justru merusak reputasi mereka sendiri.
Konflik dan persaingan adalah bagian tak terhindarkan dalam dunia yang telah rusak oleh dosa ini. Namun, cara kita menghadapinya akan mencerminkan isi hati kita yang sebenarnya. Rasul Paulus menyadari adanya ketegangan antara dua wanita dalam jemaat di Filipi, maka dari itu ia menulis, “Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.” Ia juga meminta salah seorang anggota jemaat untuk “[menolong] mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil” (Flp. 4:2-3).
Ketika kita terlibat dalam perselisihan atau pertikaian dengan saudara-saudari seiman, kita butuh pertolongan Roh Kudus. Saat kita menundukkan hati kita untuk dibentuk oleh-Nya, Dia akan memampukan kita menghasilkan buah Roh (Gal. 5:22-23). Kita pun akan mengalami pemulihan dan kedamaian—bukan hanya demi nama kita sendiri, tetapi juga demi nama Kristus dan Injil-Nya.
Oleh: Bill Crowder
Renungkan dan Doakan
Apakah ada konflik yang sedang Anda alami saat ini? Bagaimana damai dari Roh Kudus menuntun Anda untuk mengatasinya?
Bapa terkasih, Engkau pasti berduka, saat aku bertikai dengan saudara-saudari seimanku. Berilah aku hikmat-Mu serta pertolongan Roh Kudus untuk memulihkan dan menyatukan hubungan kami.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Dalam suratnya kepada jemaat Filipi, Paulus menyerukan kepada orang percaya untuk bersukacita, bagaimanapun keadaan mereka (Filipi 4:4). Ia menasihati mereka untuk menyingkirkan semua keangkuhan diri dan ambisi egois, serta hidup senantiasa dalam kesatuan (lihat 2:3-4,14; 4:2). Mereka perlu memiliki sikap yang sama seperti Kristus agar dapat hidup seperti Dia (2:5-11). Sang rasul secara khusus menyebut dua wanita, Euodia dan Sintikhe, yang bertengkar hebat sehingga mengganggu kesatuan gereja. Paulus mendesak mereka untuk hidup “sehati sepikir dalam Tuhan” (4:2), menggaungkan kembali dorongan sebelumnya untuk jemaat agar “sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan” (2:2). Ia juga meminta salah seorang anggota jemaat untuk membantu memulihkan persekutuan di antara mereka (4:3).
Ketika kita berkonflik dengan saudara seiman, Roh Kudus sanggup menolong kita menjadi pembawa damai, untuk “[berusaha] memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera” (Efesus 4:3). –K.T. Sim
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar