Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang . . . mendakwa dan mengancam kita. –Kolose 2:13-14
Baca: Kolose 2:13-15
Seorang dokter memutuskan pensiun setelah hampir 30 tahun merawat pasien kanker. Saat menyelesaikan urusan keuangan kliniknya bersama perusahaan penagihan, ia memilih untuk menghapus utang seorang pasien sebesar 650.000 dolar AS. Dalam sebuah wawancara, ia berkata, “Saya selalu merasa gelisah melihat pasien yang sedang sakit masih harus memikirkan hal-hal lain selain kesehatan mereka, seperti keluarga, pekerjaan, dan tekanan finansial. Itu terus membebani hati saya.”
Meski kita mungkin tidak pernah terlilit utang finansial yang besar, kita semua pernah mengalami hal serupa secara rohani. Alkitab menyamakan dosa dengan “utang” (Mat. 6:12 MILT), dan menyatakan bahwa tidak ada cara bagi kita untuk dapat melunasinya kepada Allah. Kita tidak bisa membayarnya dengan beramal, melayani orang lain, atau membuat kesepakatan apa pun dengan Allah. Yesus adalah satu-satunya harapan kita. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus “menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib” (Kol. 2:14).
Ketika kita menerima karya pengorbanan Yesus atas kesalahan-kesalahan kita, kita memulai hidup yang baru dan terbebas sepenuhnya dari jerat dosa. Melalui hidup kita yang baru, kiranya belas kasihan dan pengampunan Allah menerangi dunia ketika kita dimampukan-Nya untuk menghadapi beragam orang dan situasi dalam hidup dengan kasih yang tulus.
Oleh: Jennifer Benson Schuldt
Renungkan dan Doakan
Menurut Anda, mengapa Allah peduli kepada cara Anda menunjukkan belas kasihan kepada orang lain? Dalam cara hidup Anda sehari-hari, bagaimana Anda mencerminkan kebebasan yang telah Anda terima di dalam Yesus?
Tuhan Yesus, terima kasih, karena Engkau telah melunasi utang dosaku.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Dalam surat Kolose, Paulus menegaskan bahwa kematian jasmani berperan penting dalam kisah penebusan kita dari dosa. Mengapa kematian itu merupakan kunci? Tulis sang rasul, “[Kamu] sekarang diperdamaikan [Allah], di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil” (1:22-23). Paulus tengah melawan ajaran sesat, kemungkinan paham Gnostik. Salah satu klaimnya adalah Kristus tidak memiliki tubuh fisik. Tentu ajaran ini tidak alkitabiah, karena menolak penyaliban dan kebangkitan. Paulus juga mengingatkan, “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong" (2:8). Ia menyatakan, “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu” tetapi sekarang “telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia” (ay. 13). Ketika kita menerima pengorbanan Yesus sebagai tebusan atas dosa-dosa kita, kita pun terbebas dari beban dosa tersebut. –Tim Gustafson
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar