Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan . . . mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup. –Kejadian 9:16
Baca: Kejadian 9:12-16
Saat sedang berlibur di luar negeri, Owen menerima pesan yang kurang mengenakkan dari rekan kerjanya: “Bos sedang berpikir untuk menggantikanmu dengan orang lain.” Dengan hati yang cemas, ia berdoa di suatu subuh, “Di manakah Engkau, Tuhan?” Kemudian, saat membuka tirai jendela, ia melihat pelangi yang indah dan megah terbentang di atas danau. Hatinya langsung diliputi kehangatan. “Aku merasa seperti Allah berkata, ‘Jangan khawatir, Aku di sini,’” kenangnya di kemudian hari.
Dalam Kejadian 9, Allah berjanji tidak akan lagi memusnahkan bumi dengan air bah. Dia berkata, “Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi” (ay. 16). Janji ini bersifat kekal dan tanpa syarat—dengan sepenuhnya didasarkan pada perlindungan dan pemeliharaan-Nya, bukan pada apa yang diperbuat manusia. Ini hanyalah awal dari banyak janji Allah kepada umat-Nya. Yesus pun berkata, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).
Allah tidak menjanjikan hidup kita akan bebas dari penderitaan. Namun, Dia berjanji selalu hadir untuk memberikan penghiburan dan kekuatan yang kita butuhkan. Kita mungkin tidak selalu mendapat jawaban berupa pelangi yang terbentang di langit, tetapi kita memiliki jaminan bahwa dalam setiap musim kehidupan, Dia selalu hadir bagi kita. Kiranya kita dikuatkan dan dihiburkan oleh kehadiran-Nya yang setia.
Oleh: Leslie Koh
Renungkan dan Doakan
Di tengah kesulitan dan kekhawatiran, apa yang dapat Anda lakukan untuk mengingat kehadiran Allah? Manakah janji-Nya yang memberi penghiburan bagi Anda?
Bapa yang penuh kasih, terima kasih atas kehadiran-Mu yang setia. Tolonglah aku untuk mengingat janji-Mu bahwa Engkau selalu menyertaiku.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Kisah pelangi dalam Kejadian 9 diawali dengan catatan tentang dosa manusia: “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (6:5). Kejahatan mereka begitu besar hingga Allah menjatuhkan penghakiman atas dunia. Dapat dibayangkan betapa luar biasa bejatnya kondisi manusia hingga membuat Allah bertindak sedemikian dahsyat.
Namun, Allah tetap penuh belas kasih kepada manusia. Para ahli memperkirakan pembangunan bahtera memakan waktu sekitar 75 tahun—cukup panjang untuk memberi kesempatan bagi manusia untuk menanggapi penghukuman yang akan datang. Sesudah air bah, Allah menaruh pelangi di awan sebagai lambang pengharapan, sekaligus janji-Nya untuk tidak lagi menghancurkan dunia dengan air bah. Hari ini, apa pun yang kita hadapi, kiranya kita diyakinkan pada kehadiran dan kesetiaan Allah. –Bill Crowder
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar