Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. –Keluaran 20:7
Baca: Keluaran 20:1-4, 7-8, 12-17
Selembar foto lama, yang merekam adegan di luar markas besar Nazi di sebuah kota pada masa Perang Dunia II, mengandung peringatan yang penting bagi kita semua. Di dalamnya tampak seorang wanita berbusana rapi sedang menyeberang jalan, seorang pria berjas berjalan di trotoar, dan seorang lainnya membaca papan pengumuman di sudut gedung. Mereka semua tampaknya tidak menyadari spanduk besar yang tergantung di atas pintu masuk markas besar itu, dengan tulisan: “Dengan menolak orang Yahudi, saya berjuang di jalan Tuhan.”
Inilah bentuk kejahatan yang dimaksud Allah ketika Dia berfirman, “Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan” (Kel. 20:7). Perintah ini bukan hanya menegur perilaku yang mengucapkan sumpah serapah dengan nama Allah atau menyebut nama Allah dengan sembrono ketika tertimpa kemalangan, tetapi juga rupa-rupa penyimpangan—menggunakan nama-Nya untuk membenarkan atau menutupi kejahatan.
Kita tidak boleh mengaku-aku sedang melakukan pekerjaan Allah hanya karena orang lain menganggapnya demikian. Kita perlu sungguh-sungguh menguji apa yang kita kerjakan dengan standar firman-Nya. Bagaimana kita tahu kita memang melayani Dia? Mazmur 119:9 berkata, dengan “hidup menurut perintah-[Nya]” (BIMK). Allah yang memerintahkan kita, “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan” juga memberi tahu kita pekerjaan apa yang Dia mau kita kerjakan di dalam firman-Nya (1 Kor. 15:58). Mari kita sungguh-sungguh memperhatikan-Nya.
Oleh: Mike Wittmer
Renungkan dan Doakan
Pekerjaan apa yang pernah Anda lakukan dalam nama Allah? Bagaimana Anda tahu bahwa itu memang yang dikehendaki Allah untuk Anda kerjakan?
Allah Bapa, mampukanlah aku untuk bertindak dengan hikmat, kasih, dan kehati-hatian dalam setiap hal yang kulakukan dalam nama-Mu. Ajarlah aku menjaga kekudusan nama-Mu di setiap waktu.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Lima kitab pertama Alkitab, yakni Taurat, memuat banyak peraturan—613 menurut perhitungan Yahudi—sehingga membuat kita mudah melewatkan maksud utamanya: hubungan dengan Allah. Sepuluh Perintah Allah dimulai dengan, “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (Keluaran 20:2). Ketaatan mereka kepada semua perintah Allah adalah cara mengungkapkan kesetiaan kepada Allah.
Ada pula tujuan lain dari ketaatan itu, “Lakukanlah itu dengan setia . . . Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita?” (Ulangan 4:6-7). Ketaatan Israel menyingkapkan karakter dan kehadiran Allah kepada bangsa-bangsa lain. Sebaliknya, kegagalan untuk taat berarti menghina nama-Nya yang kudus. Saat ini, kita juga dapat meminta kepada Allah agar memampukan kita bersikap bijak memperlakukan nama-Nya lewat ketaatan kita. –Tim Laniak
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar