Apabila saudaramu jatuh miskin, . . . maka engkau harus menyokong dia . . . supaya ia dapat hidup di antaramu. –Imamat 25:35
Baca: Imamat 25:35-43
Todd mengajak adiknya, Alex, yang baru lulus kuliah, untuk tinggal bersama di rumahnya. Ia ingin membantu kondisi finansial Alex dengan mengizinkannya tinggal tanpa membayar sewa untuk sementara waktu. Todd baru mulai meminta Alex membayar sewa setelah enam bulan berlalu. Bertahun-tahun kemudian, saat Alex mengajukan pinjaman untuk membeli rumah, Todd mengejutkannya. Ternyata selama ini ia telah menyimpan uang sewa Alex di rekening tabungan, dan seluruh uang itu kini menjadi milik Alex! Alex pun menangis terharu karena menerima pemberian yang begitu melimpah.
Dalam Imamat 25, Allah memerintahkan bangsa Israel melalui Musa untuk mengizinkan orang-orang yang berkekurangan untuk “dapat hidup di antaramu” (ay. 35). Ini adalah bagian dari “tahun Yobel” (ay. 10) yang ditetapkan Allah—saat itulah utang dihapus, orang miskin ditolong, dan para budak dibebaskan (ay. 23-55). Allah menegaskan bahwa Dialah yang sudah memimpin umat-Nya dengan kasih “keluar dari tanah Mesir, untuk memberikan kepada [mereka] tanah Kanaan, supaya [Dia] menjadi Allah [mereka]” (ay. 38). Allah telah menyediakan tempat tinggal yang baru bagi mereka, dan sekarang umat-Nya patut meneladan kasih itu dengan membuka rumah dan hati mereka bagi sesama.
Lewat karya pengorbanan Yesus, kita menerima seluruh kekayaan kasih yang melimpah itu (ay. 16). Dengan pertolongan Allah, kiranya kita rela menyalurkan kasih itu juga secara melimpah kepada orang lain.
Oleh: Tom Felten
Renungkan dan Doakan
Dalam pengalaman Anda, bagaimana kasih Allah yang melimpah telah menyentuh hidup Anda? Bagaimana Anda dapat menjadi saluran kasih itu bagi orang lain di sekitar Anda?
Allah yang penuh kasih, tolonglah aku untuk membagikan kasih-Mu yang luar biasa dan melimpah kepada sesamaku.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Saat membentuk Israel sebagai satu bangsa, Allah ingin mereka memperhatikan cara memperlakukan sesama. Salah satunya, mereka dilarang keras memperbudak saudara sebangsa mereka. “Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu,” firman-Nya, “maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang” (Imamat 25:35). Jika seseorang “jatuh miskin . . . sehingga menyerahkan dirinya kepadamu, maka janganlah memperbudak dia” (ay. 39). Bahkan, aturan ini bersifat sementara. Allah berfirman, “Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel [setiap tahun ke-50] ia harus bekerja padamu. Kemudian ia harus diizinkan keluar dari padamu, ia bersama-sama anak-anaknya, lalu pulang kembali kepada kaumnya dan ia boleh pulang ke tanah milik nenek moyangnya” (ay. 40-41). Allah menghendaki kita untuk tidak memanfaatkan satu sama lain, melainkan memperhatikan kebutuhan sesama. Dengan kasih-Nya yang besar melalui Yesus, Dia akan memampukan kita melimpahkan kasih-Nya kepada orang lain. –Tim Gustafson
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar