Pada waktu yang ditentukan oleh Allah . . . Kristus telah mati untuk kita. –Roma 5:6,8
Baca: Roma 5:6-8
Bunga tidak harus mekar untuk terlihat indah, kata desainer tata ruang luar ternama Piet Oudolf. Bahkan di tengah musim dingin, desain karya ahli taman asal Belanda yang meraih penghargaan itu tetap memukau dengan keindahannya. “Keindahan dapat ditemukan dalam banyak hal yang tidak terpikirkan oleh kita,” ujar Oudolf, meski ada yang mungkin tidak sependapat. “Saat saya mengatakan bahwa saya menyukai tanaman yang terlihat mati [dorman],” katanya, “saya dianggap aneh, karena pada umumnya orang tidak menyukai tanaman mati.”
Apresiasi Oudolf terhadap siklus hidup tanaman menggemakan prinsip rohani yang mendasar: Allah mengasihi kita meski kita masih mati karena dosa. Rasul Paulus menjelaskan, “Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah” (Rm. 5:6). Ia melanjutkan, “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (ay. 8).
Yesus memilih orang-orang yang penuh dengan kekurangan untuk menjadi murid-murid-Nya. Dia makan bersama dengan para pendosa. Dia menyembuhkan kaum yang terpinggirkan. Begitu pula dengan Oudolf, yang “tertarik pada tanaman bukan hanya karena bunganya, tetapi juga karena karakter tanaman itu sendiri.” Ia melihat adanya keindahan “dalam hal-hal yang tidak terlihat indah pada pandangan pertama.”
Sebagai makhluk yang segambar dengan Allah, kita memperlihatkan diri-Nya kepada dunia melalui cara kita berelasi dengan-Nya dan dengan sesama. Dengan berakar dalam kasih-Nya, kita diurapi Bapa kita untuk bertumbuh indah di dalam Dia. Kita, yang dahulu mati dalam dosa, kini menampilkan keindahan-Nya kepada dunia yang rindu melihat secercah kemuliaan-Nya.
Oleh: Patricia Raybon
Renungkan dan Doakan
Dalam musim kehidupan seperti apa Allah memanggil Anda? Bagaimana Anda dapat bertumbuh mekar secara rohani, supaya orang lain dapat melihat gambar Allah dalam diri Anda?
Engkau memanggilku di saat aku mati karena dosa-dosaku, ya Allah. Terima kasih, karena Engkau menyelamatkanku, supaya aku bertumbuh indah di dalam-Mu.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Roma 5:6-10 menggunakan beberapa istilah yang terdengar keras untuk menggambarkan mereka yang terpisah dari Allah: lemah, durhaka, masih berdosa, seteru. Ayat 6 berkata bahwa “waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka.” Kata Yunani untuk lemah adalah asthenēs, yang berarti “tidak berdaya,” “rapuh,” “lemah,” “sakit.” Durhaka, terjemahan dari asebēs, menggambarkan seseorang yang “kekurangan rasa hormat yang mendalam kepada Allah.” Paulus berkata bahwa “ketika kita masih menjadi pendosa, Kristus mati bagi kita” (ay. 8 AYT). Kata Yunani untuk pendosa (hamartōlos) berarti orang yang “terikat pada dosa,” “orang fasik.” Pada akhirnya, sang rasul menyebut mereka yang terpisah dari Allah sebagai seteru (ay. 10).
Bagian Alkitab yang menyoroti keputusasaan manusia ini ternyata mengandung pengharapan besar, yakni kasih Allah yang ditunjukkan melalui kematian Yesus (ay. 8). Karena kasih dan karunia Allah, orang percaya kini hidup di dalam Kristus dan dapat memancarkan keindahan-Nya kepada semua orang di sekitar kita. –Arthur Jackson
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar