Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. –2 Korintus 12:9
Baca: 2 Korintus 11:23-29
Tungsten adalah suatu paradoks. Logam keras ini memiliki kekuatan tarik tertinggi dari semua logam murni, sehingga membuatnya sangat sulit untuk diolah. Namun, situs Mead Metal mencatat, “Dalam hal ketahanan terhadap benturan, tungsten tergolong lemah. Tungsten adalah logam rapuh yang mudah hancur saat terkena benturan.” Menarik bahwa tungsten, logam alami yang terkuat, ternyata juga begitu lemah dan rapuh.
Manusia juga menunjukkan karakteristik yang serupa. Meski dapat menunjukkan kekuatan fisik dan mental yang luar biasa, kita begitu rapuh dan mudah hancur di bawah tekanan dunia yang berdosa dan rusak ini. Rasul Paulus mengalaminya secara pribadi. Dalam 2 Korintus 11, ia menerangkan sejumlah pengalaman yang membuatnya tidak berdaya (ay. 23-29). Namun, Allah menguatkannya: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Karena itu, Paulus menyatakan, “Terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (12:9).
Di bagian awal suratnya, Paulus telah menuliskan, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit” (4:8). Selalu ada harapan, meski anak-anak Allah yang paling tangguh sekalipun tahu betul bahwa dunia ini terlalu berat untuk dihadapi sendiri. Karena itu, dengan sukarela, kita mengandalkan kekuatan kasih karunia-Nya untuk dapat bertahan. Seperti Paulus, kiranya kita menerima kelemahan kita supaya kuasa Allah memampukan kita menanggungnya.
Oleh: Bill Crowder
Renungkan dan Doakan
Kapan Anda pernah mengalami suatu situasi yang rasanya bisa menumbangkan Anda? Bagaimana Anda akan mengandalkan kekuatan Allah saat menghadapi krisis di masa mendatang?
Ya Bapa, biarlah aku mengandalkan kekuatan-Mu yang akan memampukanku melewati masa-masa sulit dalam hidupku.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Ketika kita merasa lemah dan tak berdaya, Allah ingin agar kita berpaling kepada-Nya. Yesaya menulis, “TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu” (40:28). “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (ay. 29). Ketika kita percaya kepada-Nya, Dia akan memperbarui kekuatan kita (ay. 31).
Paulus mengingatkan bahwa ketika kita datang kepada Allah dalam kelemahan, kita dapat bersukacita karena melalui kelemahanlah kuasa Allah menjadi nyata (2 Korintus 11:29-30; 12:9). Surat Roma juga menyatakan, “Roh membantu kita dalam kelemahan kita” dan “berdoa untuk kita” bahkan ketika kita tidak tahu bagaimana seharusnya kita berdoa (8:26). Kita dapat menemukan pengharapan, penghiburan, dan sukacita “di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada [kita]” (Filipi 4:13). Allah memberi apa yang kita butuhkan untuk bertekun, hidup bagi-Nya, dan melayani-Nya. –Alyson Kieda
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar