Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut. –Mazmur 118:6
Baca: Mazmur 118:5-14
Salah satu pengalaman masa kecil yang paling berkesan bagi putri kami adalah momen ketika ayahnya mengajarinya bersepeda tanpa roda bantuan. Suatu waktu, ketika mereka sedang berlatih di luar, suami saya menyeimbangkan kakinya pada poros roda belakang (sementara putri kami tetap menginjak pedal dan mereka berdua memegang setang sepeda) sehingga mereka dapat meluncur bersama menuruni jalan kecil yang landai. Anak kami ingat bagaimana ayahnya tertawa gembira, dan ini berbanding terbalik dengan ketakutan yang dirasakannya saat itu. Perjalanan itu begitu singkat dan terlalu cepat bagi ayahnya untuk berhenti dan berempati kepadanya. Saat mereka mengenang kejadian itu hari ini, suami saya merespons dengan meyakinkan putri kami bahwa ia tahu semuanya akan baik-baik saja.
Kisah mereka adalah metafora yang tepat untuk momen-momen menakutkan yang kita alami dalam hidup. “Bukit-bukit” yang kita temui mungkin terlihat begitu besar dan menakutkan dari sudut pandang kita, dan kita takut akan terluka saat kita berusaha melewatinya. Namun, Alkitab meyakinkan kita bahwa karena “Tuhan di pihak [kita],” kita tidak perlu “takut” (Mzm. 118:6). Meski pertolongan manusia bisa mengecewakan kita, Allah merupakan tempat perlindungan yang dapat dipercaya ketika kita kewalahan menghadapi pergumulan kita (ay. 8-9).
Allah akan “menolong” kita (ay. 7), dan kita dapat mempercayai-Nya untuk memelihara kita pada momen-momen yang paling sulit dan menakutkan di dalam hidup kita. Terlepas dari kejatuhan, luka, dan derita yang kita alami, kehadiran-Nya yang menyelamatkan adalah “kekuatan” dan “keselamatan” kita (ay. 14).
Oleh: Kirsten Holmberg
Renungkan dan Doakan
Kapan Anda pernah menyadari kehadiran Allah di tengah kesulitan yang Anda hadapi? Bagaimana cara-Nya menolong Anda saat itu?
Terima kasih, ya Bapa, atas kehadiran-Mu di dalam hidupku. Ajarlah aku untuk menyadari bahwa Engkau selalu dekat.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Mazmur 118 dibuka dan ditutup dengan seruan kepada seluruh komunitas: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (ay. 1,29). Di antara puji-pujian umat tersebut, kita mendengar kesaksian pribadi sang pemazmur tentang bagaimana ia mengalami kebaikan Allah secara nyata. “Dalam kesesakan aku telah berseru kepada TUHAN. TUHAN telah menjawab aku dengan memberi kelegaan” (ay. 5); “Aku diserang dengan sengit dan hampir jatuh, tetapi TUHAN menolong aku” (ay. 13 BIMK).
Pengalaman pribadi pemazmur akan Allah yang menguatkan dan melindungi (ay. 6-7), bahkan di tengah situasi yang tampak mustahil (ay. 10-11), berujung pada perayaan penuh sukacita (ay. 15). Sang pemazmur bersaksi tentang penyelamatan Allah, termasuk dari jerat maut (ay. 17-18), dan kesaksian ini mengundang kita semua untuk hidup penuh syukur di hadapan Allah yang dapat dipercaya dalam segala keadaan. –Monica La Rose
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar