• Megalodon dan Lewiatan 2025-09-17

    Siapakah yang menghadapi Aku, yang Kubiarkan tetap selamat? Apa yang ada di seluruh kolong langit adalah kepunyaan-Ku. –Ayub 41:2

    Baca: Ayub 40:20-24; 41:1-5

    Beberapa tahun lalu, sebuah paket berbentuk gumpalan tiba di kotak surat saya. Saya tersenyum melihat bahwa pengirimnya adalah seorang teman baik saya. Joe terkadang mengirimi saya hal-hal yang tidak terduga. Kali ini juga sama: Di dalamnya terdapat gigi seekor hiu, dengan warna coklat tua dan panjang hampir 13 cm.

    Joe menjelaskan dalam suratnya bahwa benda itu adalah fosil gigi dari hiu prasejarah, seekor megalodon, yang ukurannya berkali-kali lipat lebih besar daripada hiu putih besar. Saya mencoba membayangkan seberapa besar rahang ikan yang dapat menampung sederetan gigi seperti itu. Para ilmuwan memberikan jawaban spekulatif: 2,7 m x 3,3 m. Makhluk itu pastilah sangat menakjubkan!

    Alkitab tidak berbicara tentang megalodon. Namun, dalam Kitab Ayub, Allah menggambarkan seekor binatang laut yang disebut buaya Lewiatan. Ayub 41 merinci bentuknya yang mengesankan. “Aku tidak akan berdiam diri tentang anggota-anggota badannya, tentang keperkasaannya dan perawakannya yang tampan,” kata Allah kepada Ayub (ay. 3). “Siapa dapat membuka pintu moncongnya? Di sekeliling giginya ada kengerian” (ay. 5).

    Jawaban dari pertanyaan itu? Hanya pencipta Lewiatan itu sendiri. Di sini, Allah mengingatkan Ayub bahwa sehebat-hebatnya binatang itu, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Penciptanya: “Apa yang ada di seluruh kolong langit, adalah kepunyaan-Ku” (ay. 2).

    Gigi hiu yang besar itu saya pajang di atas meja untuk mengingatkan saya, tidak saja tentang keagungan dan kreativitas Sang Pencipta, tetapi juga tentang karakter Allah yang memberikan penghiburan ketika hidup ini terasa menekan.

    Oleh: Adam R. Holz

    Renungkan dan Doakan

    Bagaimana aspek-aspek tertentu dari alam semesta ini mengingatkan Anda pada Allah yang penuh kuasa dan kreatif? Bagaimana karya penciptaan-Nya menguatkan Anda?

    Ya Bapa, karya ciptaan-Mu menyuarakan keagungan dan kuasa-Mu. Tolonglah aku untuk mempercayai-Mu, ketika hidup terasa menekan.

    Amin 

    Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu 

    WAWASAN

    Ayub 41 merupakan bagian dari percakapan panjang yang dimulai di Ayub 40:1, antara Allah dan Ayub yang bergumul memahami kuasa dan otoritas Allah atas makhluk ciptaan-Nya. Setelah melewati pasal demi pasal dengan membela kesalehan dan kebaikan dirinya, Ayub akhirnya tak mampu lagi melakukannya ketika diperhadapkan dengan kebesaran Allah. Ia pun menjawab perkataan Allah dengan hati yang hancur dan bertobat (42:1-6).

    Tak diragukan bahwa Ayub adalah orang yang saleh, tetapi ketika berhadapan dengan Allah semesta alam, perbandingan yang diucapkan oleh Yesaya menjadi sangat tepat: “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor” (Yesaya 64:6). Alam ciptaan Allah mengingatkan kita akan kebesaran-Nya. Di hadapan-Nya, kita tersadar betapa kecilnya diri kita dan betapa besar ketergantungan kita kepada-Nya. –Bill Crowder

    Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti 

    Our Daily Bread

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia
Pengamat Sosial

Harta yang Disimpan di Surga 2026-02-04

Kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. –1 Timotius 6:7 Baca: 1 Timotius 6:6-12, 17-...

Halaman FB