Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci . . . pikirkanlah semuanya itu. –Filipi 4:8
Baca: Filipi 4:4-9
Putaran demi putaran, Katie Ledecky berada pada posisi yang sudah sering dialaminya dalam lomba renang gaya bebas 1.500 meter di Olimpiade Paris 2024. Selama sekitar 15 menit, ia berada jauh di depan para perenang lainnya dan tenggelam dalam pikirannya. Apa yang dipikirkan Ledecky selama perlombaan yang panjang itu? Dalam sebuah wawancara yang langsung diadakan setelah ia menyabet medali emas dan memecahkan rekor Olimpiade, Ledecky berkata bahwa ia memikirkan rekan-rekan latihannya dan menyebutkan nama-nama mereka dalam pikirannya.
Perenang jarak jauh bukanlah satu-satunya yang perlu memfokuskan pikiran mereka pada hal-hal yang benar. Sebagai orang percaya, kita juga perlu menjaga pikiran kita di sepanjang perjalanan iman kita.
Rasul Paulus mendorong jemaat di Filipi: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan” dan tidak “kuatir tentang apa pun juga”, tetapi berdoa tentang segala hal (Flp. 4:4,6). Hasilnya? “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (ay. 7). Yesus, Sang Raja Damai, menolong kita untuk memandang kekhawatiran dan kesulitan kita dengan sudut pandang yang benar.
Paulus juga mendorong orang-orang percaya: “Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (ay. 8).
Ketika menjalani hari-hari kita, jagalah pikiran kita dengan sungguh-sungguh. Ketika kita melihat karya tangan Allah dalam kehidupan kita, kita dapat menghitung segala berkat yang ada dan menyembah Dia yang memberikannya.
Oleh: Nancy Gavilanes
Renungkan dan Doakan
Apa yang sedang Anda pikirkan belakangan ini? Bagaimana Anda dapat menghormati Allah lewat pikiran Anda?
Ya Allah, kiranya pikiran-pikiranku berkenan kepada-Mu.
Amin... Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Dalam surat “sukacita” ini (Filipi 1:4,25; 2:2,29; 4:1), Paulus mendorong orang percaya untuk “[bersukacita] senantiasa dalam Tuhan” (4:4). Ia menjelaskan alasan mengapa ia bersukacita dan mendorong jemaat untuk melakukan hal yang sama (1:18; 2:17-18; 3:1; 4:4,10).
Ketika pertama kalinya Paulus mengunjungi koloni Roma di Filipi, sepuluh tahun sebelumnya dalam perjalanan misinya yang kedua, ia dituduh menimbulkan huru-hara di kota itu. Meski disiksa secara ilegal dan dipenjara secara tidak adil (Kisah Para Rasul 16:20-24), Paulus menunjukkan ketenangan dan kedamaian dengan “berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah” (ay. 25).
Dalam Filipi 4, Paulus berpesan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. . . . Semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (ay. 6,8). Ketika kita memusatkan pikiran pada apa yang telah Allah lakukan, kita dapat tetap memuji Dia bahkan di tengah masa-masa sulit. –K.T. Sim
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar