Biar hitam, aku cantik, hai putri-putri Yerusalem. –Kidung Agung 1:5 (BIMK)
Baca: Kidung Agung 1:1-6
Setiap hari, Julie senang menyanyikan ayat-ayat Kitab Suci sebagai bagian dari saat teduhnya. “Saat aku bernyanyi, hati dan pikiranku benar-benar mulai melakukan dan mempercayai apa yang kunyanyikan!” Dengan memperkatakan firman Tuhan lewat lagu, Julie rindu agar kebenaran-Nya dapat membukakan hal-hal yang tidak ia sukai dari dirinya sendiri, seperti suaranya dan tinggi badannya.
Julie berkata, “Saya mulai menyanyikan Kidung Agung 1:5: ‘Biar hitam, aku cantik.’” (Dalam budaya bercocok tanam zaman itu, seorang perempuan yang kulitnya menjadi gelap akibat terik matahari tidak dianggap cantik). Saat ia menyanyikan ayat tersebut, Allah pun mengubah cara pandangnya. Seketika juga ia memahami: “Allah mengasihiku meski aku tidak sempurna.”
Yang dilantunkan Julie adalah sepenggal syair indah yang terdapat dalam Sastra Hikmat dari Perjanjian Lama. Sejumlah pihak menafsirkan Kitab Kidung Agung sebagai kiasan dari kasih Allah kepada umat-Nya, tetapi banyak pula yang melihatnya sebagai perayaan cinta kasih dalam pernikahan. Saat menyaksikan keindahan dari komitmen sepasang suami-istri kepada satu sama lain, kita dapat menggemakan pernyataan para sahabat dalam kitab tersebut: “Karena engkau kami semua bersukaria, dan memuji cintamu melebihi anggur” (ay. 4 BIMK).
Bagaimanapun cara kita menafsirkan perkataan kuno itu, kita dapat menegaskan bersama Julie bahwa Allah bersukacita atas umat pilihan-Nya. Inilah yang dikatakan-Nya dalam bagian lain dari Perjanjian Lama: “Engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau” (Yes. 43:4).
Oleh: Amy Boucher Pye
Renungkan dan Doakan
Selain bernyanyi, bagaimana Anda dapat berinteraksi dengan ayat-ayat Alkitab dalam cara-cara yang baru? Bagaimana Anda dapat menerima kebenaran bahwa Allah mengasihi Anda?
Allah Pencipta kami, Engkau telah membentukku serupa dengan gambar-Mu dan berkata bahwa Engkau mengasihiku. Mampukanlah aku memahami kebenaran ini dalam pikiranku dan hatiku, agar aku dapat membagikan kasih-Mu kepada sesamaku.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Selama berabad-abad, para penafsir terus memperdebatkan cara membaca Kitab Kidung Agung. Sebagian melihatnya sebagai alegori yang panjang tentang kasih Allah kepada bangsa pilihan-Nya, Israel. Yang lain menafsirkannya sebagai alegori tentang kasih antara Kristus dan jemaat. Ada pula yang memahami kitab ini sebagai perayaan cinta antara suami dan istri.
Ketiga pendekatan ini menegaskan bahwa Kidung Agung menghadirkan pandangan yang luhur tentang cinta. Inilah salah satu alasan mengapa kitab ini dimasukkan dalam Alkitab. Sepanjang nyanyian ini, kita diingatkan tentang keindahan cinta, yang ujungnya merujuk kepada kasih Allah kepada kita. –Bill Crowder
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar