• Mata yang Melihat Segalanya 2026-01-12

    Aku hendak mengajar . . . jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. –Mazmur 32:8

    Baca: Mazmur 32:1-5, 9-11

    Jason dan Pierre telah bekerja bersama selama satu dekade memasang pelapis dinding luar rumah. Mereka berdua sahabat baik, meski jarang berbicara. Saat bekerja, hampir tak ada kata yang terucap di antara mereka. Namun, mereka mengenal baik satu sama lain sehingga untuk berkomunikasi, mereka cukup menganggukkan kepala atau menggunakan lirikan mata. Isyarat-isyarat kecil seperti itu memiliki makna yang mendalam.

    Mazmur 32 menghadirkan keintiman serupa antara Allah dan pemazmur. Salah satu versi menerjemahkan ayat 8 demikian: “Aku akan menasihatimu dengan mata-Ku” (TSI). Allah bukanlah pengamat dari kejauhan, melainkan Bapa penuh kasih yang menjadikan anak-Nya rekan sekerja. Walaupun mazmur ini dimulai dengan pengakuan dosa (ay. 1-5), fokusnya tidak terletak pada hukuman atas dosa, melainkan pada sikap penuh kasih Allah yang menuntun anak-Nya kembali jalan yang benar (ay. 6-7).

    Ada pilihan lain, yakni menjadi seperti seekor kuda atau bagal yang “kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau” (ay. 9). Gambaran ini menunjukkan sikap keras kepala dan pengabaian terhadap jalan Allah. Sebagai orang percaya, kita perlu membangun kedekatan yang erat dengan Allah, supaya kita peka terhadap isyarat-Nya yang lembut. Salah satu cara membangun kedekatan itu adalah ketekunan membaca Kitab Suci. Sikap ini akan menolong kita hidup “dipimpin oleh Roh” (Gal. 5:25), sehingga kita sungguh mengasihi apa yang Allah kasihi. Ketika itu terjadi, kita akan bersukacita dan bergembira dalam Tuhan (Mzm. 32:11).

    Oleh: Matt Lucas

    Renungkan dan Doakan

    Dalam aspek apa kehidupan rohani Anda mulai terasa seperti rutinitas belaka? Bagaimana Anda dapat membangun kedekatan dengan Allah, melalui pembacaan dan perenungan firman-Nya?

    Ya Bapa, terima kasih, karena Engkau mengenalku dengan begitu mendalam, dan tetap mengundangku menjadi rekan sekerja-Mu untuk memperluas kerajaan-Mu.

    Amin 

    Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu 

    WAWASAN

    Selama satu tahun setelah Daud berbuat dosa dengan berzina, ia tidak kunjung bertobat sampai kemudian Nabi Natan menegurnya (2 Samuel 11–12). Kebanyakan ahli Alkitab percaya bahwa Daud menulis Mazmur 32 setelah mengakui dosanya. Dalam mazmur penyesalan ini, ia berbicara tentang beratnya beban rasa bersalah yang tak diakui (ay. 3-4) dan sukacita yang dialami setelah diampuni Allah (ay. 1-2,5). Sang pemazmur juga menekankan pentingnya untuk tunduk pada perintah-perintah Allah (ay. 8-9). Penulis Mazmur 119 yang anonim mengajarkan hikmat serupa dari hidup menghormati Allah, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau” (ay. 9-11). Kita pun menjadi dekat dengan Allah ketika kita mengikuti tekad sang pemazmur, “Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan” (ay. 16). –K.T. Sim

    Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti 

    Our Daily Bread

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia
Pengamat Sosial

Istirahat yang Menyegarkan 2026-02-05

Marilah kita berusaha sungguh-sungguh untuk menerima istirahat yang dijanjikan Allah itu. Jangan sampai seorang pun dari kita gagal. –Ibrani...

Halaman FB