Semua laki-laki dan perempuan, yang terdorong hatinya akan membawa sesuatu . . . sebagai pemberian sukarela bagi Tuhan. –Keluaran 35:29
Baca: Keluaran 35:20-29
“Saya bersyukur kepada Allah atas kebaikan-Nya,” demikian bunyi sebuah plakat, “karena Dia mengizinkan saya mengambil bagian dalam pembangunan jalan raya ini sebagai bingkai bagi lukisan indah ciptaan-Nya.” Konon itulah ucapan Samuel Christopher Lancaster, seorang insinyur jalan raya, pada tahun 1915. Plakat tersebut dipasang pada sebuah tempat orang dapat melihat pemandangan jalan yang dirancangnya, yaitu jalur yang membawa para pengendara menyusuri ngarai Sungai Columbia di antara hutan, air terjun, dan tebing-tebing batu yang menakjubkan.
Sering kali kita tergoda menganggap segala milik dan pencapaian sebagai hasil usaha kita sendiri, atau menjadikannya untuk meninggikan diri sendiri. Namun, bagaimana jika kita melihat semua itu sebagai “bingkai” sederhana yang menonjolkan mahakarya Allah? Musa mencontohkannya ketika ia mengajak bangsa Israel membawa persembahan untuk pembangunan Kemah Suci (Kel. 35:5). “Setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya” memberikan apa yang mereka miliki: emas, batu permata, kain, kulit, kayu, rempah-rempah, dan minyak (ay. 21-28). Barang-barang berharga itu dipersembahkan dengan rela untuk menanggapi perintah Allah (ay. 29). Memang ada sejumlah perajin yang memiliki keahlian khusus, tetapi setiap orang dapat berkontribusi, seperti para perempuan yang memintal bulu kambing dengan terampil (ay. 26).
Yang terutama, baik dahulu maupun sekarang, adalah sikap hati sang pemberi. “Ambillah bagi Tuhan persembahan khusus dari barang kepunyaanmu” (ay. 5). Itulah cara terbaik untuk menggunakan apa yang kita miliki.
Oleh: Karen Pimpo
Renungkan dan Doakan
Apa saja milik Anda yang dapat dipersembahkan? Bagaimana Anda dapat menggunakannya untuk memuliakan Allah?
Ya Allah, hatiku begitu rentan untuk meninggikan diri sendiri. Tolonglah agar hidupku hanya rindu memuliakan nama-Mu!
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Membangun tabernakel (kemah suci) adalah momen penting dalam sejarah Israel. Setelah keluar dari perbudakan di Mesir, bangsa itu berkumpul di kaki Gunung Sinai, tempt Allah yang disembah leluhur mereka, Abraham, kembali memperkenalkan diri kepada umat pilihan-Nya. Tabernakel bukan hanya lambang kehadiran Allah di tengah umat-Nya, tetapi juga pusat kehidupan bangsa mereka. Ini berlanjut hingga berabad-abad kemudian, dengan tabernakel itu digantikan oleh bait suci Salomo di Yerusalem, tempat bagi umat untuk terus memberikan persembahan terbaik mereka kepada Allah. Saat ini, dengan pertolongan Roh Kudus, kita juga dapat memuliakan Allah dengan mempersembahkan apa yang kita miliki kepada-Nya. –Bill Crowder
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar