Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai. –1 Korintus 4:2
Baca: 1 Korintus 4:1-2, 8-13
Pada Maret 2024, sebuah perusahaan dirgantara gagal dalam audit keselamatan yang dilakukan oleh Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat. Audit tersebut dilakukan setelah terjadi sejumlah insiden berbahaya, seperti pesawat terbang produksi mereka yang mengalami penurunan tekanan kabin secara mendadak ketika panel pintunya terlepas di udara. Juru bicara perusahaan itu mengakui kegagalan tersebut terjadi karena instruksi bagi para karyawan sulit dipahami dan terlalu sering berubah, sehingga mereka tidak konsisten mengikuti prosedur yang berlaku.
Rasul Paulus menasihati jemaat di Korintus agar memandang dirinya dan para pemimpin lain sebagai “hamba-hamba Kristus” yang setia dan dianggap layak, yang telah “dipercayakan” untuk melayani Allah (1 Kor. 4:1-2). Pada masa itu, para pelayan dipercaya untuk mengelola dan membagi-bagikan tugas dalam rumah tangga. Di atas segalanya, syarat utama atas mereka yang telah dipercayakan pekerjaan itu adalah kesetiaan. Paulus menyebut dirinya sendiri sebagai pelayan yang “melakukan pekerjaan tangan yang berat” dalam menunaikan tanggung jawabnya (ay. 12). Maksudnya, Paulus dengan sungguh-sungguh menggunakan apa yang telah Allah berikan kepadanya, terutama karunia hikmat dan rahasia Injil (ay. 2).
Dengan kesanggupan yang Yesus sediakan, marilah kita berusaha menjadi pelayan yang setia dan konsisten, mengikuti standar-Nya yang tak bercela dalam kehidupan rohani, tanggung jawab pekerjaan, dan hubungan kita dengan sesama.
Oleh: Marvin Williams
Renungkan dan Doakan
Bagaimana kita dapat memegang kepercayaan yang Allah berikan dengan setia? Apa artinya bagi Anda menjadi pelayan-Nya?
Bapa Surgawi, mampukanlah aku menjadi pelayan yang setia bagi-Mu.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Paulus menulis surat 1 Korintus untuk menanggapi berbagai masalah spesifik dalam jemaat Korintus: kritik terhadap pelayanannya (pasal 1–4); percabulan (pasal 5); sengketa hukum (pasal 6); pernikahan, perceraian, dan kehidupan melajang (pasal 7); makanan persembahan berhala (pasal 8–10); peran perempuan dalam gereja dan Perjamuan Kudus (pasal 11); penggunaan karunia-karunia rohani (pasal 12-14); kebangkitan (pasal 15); dan pemberian (pasal 16).
Dalam pasal 4, Paulus menangani akar dari semua masalah tersebut: sifat yang sombong, meninggikan diri sendiri, dan tidak merasa butuh orang lain (ay. 6-13) yang menimbulkan perpecahan dalam jemaat. Ia dengan sengaja dan terus terang menempatkan dirinya sebagai teladan hamba Tuhan yang setia (ay. 1-2), yang hidup serupa Kristus dalam kesederhanaan, keterbukaan, integritas, dan kerendahan hati. Saat ini, kita dapat meminta Allah agar memampukan kita setia mengelola apa yang Allah berikan. –K.T. Sim
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar