Kami . . . terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus. –2 Korintus 4:11
Baca: 2 Korintus 4:5-12
“Kulayangkan pandangku, yang redup oleh duka / Tiada bukit abadi yang tampak di mata,” tulis penyair era Victoria, Christina Rossetti, dalam puisinya yang menyayat hati “A Better Resurrection” (Kebangkitan yang Lebih Mulia). Puisi itu menggambarkan perjuangannya untuk terus berharap di tengah rasa hampa, “terlalu lelah ‘tuk berharap atau khawatir.” Namun, Rossetti memegang teguh pengharapan yang lebih dalam daripada perasaan putus asanya. Meski ia melihat “tiada kuncup atau tunas hijau” yang menandakan kebangkitan Kristus yang memperbarui hidupnya, ia mengaku: “Kebangkitan pasti terjadi” dan berdoa, “Ya Yesus, bangkitlah di dalamku.”
Dalam 2 Korintus, Rasul Paulus juga menggambarkan bagaimana penderitaannya “begitu besar dan begitu berat, sehingga [ia] telah putus asa juga akan hidup[nya]” (1:8). Namun, ia mendapati bahwa keputusasaan itu mengajarkannya untuk berharap hanya kepada “Allah yang membangkitkan orang-orang mati” (ay. 9).
Paulus juga belajar bahwa ketika kita membawa pengharapan Injil dalam “bejana tanah liat,” yaitu tubuh kita yang rapuh, kehidupan dan harapan akan kebangkitan Kristus terpancar melalui kita, sehingga nyata terlihat “bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (4:7).
Perubahan serupa juga tampak dalam puisi Rossetti. Saat ia menyerahkan hatinya yang hancur kepada Allah, doanya berubah menjadi permohonan agar kepingan-kepingan hidupnya “dipanaskan dalam tungku api” untuk dibentuk dan dipakai sebagai cawan persembahan “bagi-Nya, Rajaku.” Rossetti pun menutup syairnya dengan sederhana: “Ya Yesus, minumlah dariku.”
Oleh: Monica La Rose
Renungkan dan Doakan
Bagaimana kejujuran dalam mengungkapkan rasa sakit kepada Allah dapat membawa penghiburan dan harapan? Bagaimana Anda telah mengalami Dia mengubah kepingan hidup Anda?
Ya Allah, terima kasih, karena pengharapan di dalam Engkau itu sungguh nyata, bahkan ketika aku tidak dapat merasakannya. Mampukan aku mempersembahkan hidupku bagi-Mu.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Apa artinya ketika Paulus menulis, “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa” (2 Korintus 4:3)? Jawabannya ada dalam pasal 3, ketika ia menjelaskan bahwa Musa “menyelubungi mukanya” (ay. 13) saat turun dari Gunung Sinai. Ia harus melakukannya, karena wajahnya masih memancarkan kemuliaan Allah setelah berbicara dengan-Nya (lihat Keluaran 34:29-35). Pada waktu itu, Sang Mahakuasa masih terlalu menakutkan untuk didekati (19:12-13). Paulus menulis, “Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa [Taurat], ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya” (2 Korintus 3:15-16). Orang Israel kuno melihat Allah sebagai sosok yang tak dapat didekati. Akan tetapi, dengan kuasa Yesus, kita dapat mendekat kepada-Nya dengan berani, sambil membawa segala rasa sakit, ketakutan, dan keraguan kita kepada-Nya, untuk menemukan kepastian dan penghiburan yang kita rindukan. –Tim Gustafson
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar