Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. –1 Yohanes 4:10
Baca: 1 Yohanes 4:7-12
Apa yang agung dari Jumat Agung? Mengapa hari itu tidak disebut Jumat Buruk atau Jumat Sedih? Bukankah seharusnya hari itu menjadi waktu perenungan penuh kepedihan, bukan perayaan? Ada pula yang menyebut Jumat Agung dengan nama-nama lain, seperti Jumat Suci. Di Jerman, misalnya, namanya adalah Karfreitag atau Jumat Duka. Dalam bahasa Inggris, Jumat Agung disebut “Good Friday,” konon berasal dari tradisi kuno yang menyebutnya sebagai “God’s Friday” (Jumatnya Allah).
Apa pun asal-usul namanya, masih tepat kita menyebut hari kematian Yesus sebagai hari yang “agung.” Dengan kasih yang rela berkorban, Kristus mati demi menebus dosa kita. Itulah sebabnya Jumat Agung disebut agung. Kabar baiknya, tiga hari kemudian Dia bangkit dari kubur dengan penuh kemenangan.
Ahli Perjanjian Baru D.A. Carson menulis, “Bukan paku yang menahan Yesus tetap tergantung di atas kayu salib yang mengerikan itu, melainkan tekad-Nya yang tak tergoyahkan, yang berasal dari kasih kepada Bapa-Nya, untuk melakukan kehendak Bapa-Nya—dan juga kasih-Nya kepada orang berdosa seperti saya.” Dalam 1 Yohanes 4 kita membaca, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (ay. 10).
Kabar baik tentang Jumat Agung adalah bahwa Allah mengasihi kita dan rindu menjalin hubungan dengan kita! Karena kasih itulah, kini kita dipanggil untuk mengasihi sesama (ay. 7,11). Dengan melakukannya, kita menunjukkan kasih kita kepada-Nya.
Oleh: Alyson Kieda
Renungkan dan Doakan
Apa arti Jumat Agung bagi Anda? Bagaimana Anda dapat menghormati Tuhan Yesus pada hari ini?
Ya Allah, terima kasih, karena Engkau mengasihiku! Tolonglah aku untuk membagikan kabar baik tentang diri-Mu kepada orang lain.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Yohanes, “murid yang dikasihi” Yesus (Yohanes 13:23), banyak menulis tentang kasih Allah kepada kita. Dalam Injilnya, ia menyatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” untuk menyelamatkan kita dari dosa (3:16). Dalam salah satu suratnya, Yohanes menegaskan hal serupa: “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. . . . Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yohanes 4:9-10).
Paulus pun menekankan kasih Allah yang agung dengan mengutus Kristus untuk mati bagi kita “ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Karena pengorbanan Yesus bagi dosa-dosa kita—yang kita kenang di hari Jumat Agung—“kita juga bersukacita dalam Allah melalui Tuhan kita Yesus Kristus, yang melalui-Nya, kita sekarang menerima pendamaian” (ay. 11 AYT). –K.T. Sim
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar