Jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. –1 Tesalonika 4:13
Semuanya bermula dari sebuah surat elektronik yang saya terima dari seorang ayah yang sedang berduka. Putrinya yang bernama Alyssa, seorang mahasiswi tingkat tiga, meninggal dunia karena kecelakaan mobil. Ayah tersebut mencari seseorang yang dapat memahami kepedihannya yang begitu mendalam.
Setelah empat tahun dan hampir 300 kali saling berkirim surel, Craig dan saya akhirnya bertemu. Perjalanan dinas membawanya ke kota dekat tempat saya tinggal, sehingga pada suatu hari Minggu kami berbakti bersama, makan siang, dan saling berbagi kenangan tentang putri kami masing-masing: Melissa dan Alyssa—dua gadis yang sama-sama menghadirkan sukacita bagi orang lain, gemar bermain voli, mengasihi Yesus, dan kehilangan nyawa karena kecelakaan.
Apa inti dari percakapan kami hari itu? Kami membicarakan kesedihan yang kami rasakan dan menangis bersama. Namun, lebih dari itu, kami berbicara tentang pengharapan—pengharapan sejati yang didasarkan pada janji Allah. Rasul Paulus menjelaskan, “Kami tidak mau . . . kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka . . . mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia” (1 Tes. 4:13-14). Bagi orang percaya, tersedia kehidupan kekal setelah kematian.
Craig dan saya menutup perjumpaan hari itu dengan doa dan ucapan syukur kepada Allah bahwa putri-putri kami sudah aman dalam pelukan kasih-Nya. Kasih Yesus yang kami miliki telah menyatukan hati kami dan menghadirkan pengharapan di tengah situasi yang terasa begitu suram.
Oleh: Dave Branon
Renungkan dan Doakan
Kepedihan apa yang membebani hati Anda? Siapa yang dapat Anda ajak bicara tentang hal itu? Bagaimana pengharapan sejati dalam Yesus menolong Anda menghadapi pergumulan itu?
Allah Maha Kasih, terima kasih, karena Engkau menghadirkan pengharapan yang sejati dan juga menempatkan di sekitarku orang-orang yang juga memahami kepedihan hatiku.
Amin
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu
WAWASAN
Dalam 1 Tesalonika 4:13-18, Paulus menghibur umat Tuhan yang berduka karena ditinggalkan oleh orang-orang terkasih. Dengan tidak mengecilkan kesedihan mereka, ia mengingatkan mereka pada harapan besar dalam kebangkitan dan janji kedatangan Kristus yang kedua kali. Karena Yesus telah mengalahkan maut, kita dipersatukan tidak hanya dalam iman, tetapi juga pengharapan dan masa depan yang sama.
Dalam duka yang kelam atau derita hidup yang pedih, kasih Kristus menjadi pegangan kita. Kita tidak berdukacita seperti “orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” (ay. 13), sebab pengharapan kita berakar pada Juruselamat yang hidup dan yang akan kembali untuk membawa kita tinggal bersama dengan-Nya. Janji ini melampaui generasi, budaya, bahkan maut itu sendiri. Dalam Yesus, keterpisahan hanyalah sementara, karena pada akhirnya kita akan bertemu kembali. Ketika kita merasa kehilangan segala-galanya, kasih-Nya tetap bagi kita. –J.R. Hudberg
Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti
Our Daily Bread

Tidak ada komentar:
Posting Komentar