• Kepuasan Sejati di dalam Allah 2026-03-09

    Abraham mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur. –Kejadian 25:8

    Baca: Kejadian 25:7-11

    Tiga puluh tahun lalu, saya mengikuti sebuah aktivitas dalam lokakarya bagi para pengangguran yang masih membekas dalam ingatan saya hingga kini. Saya dan rekan-rekan lain yang terkena PHK diminta untuk menulis pidato menjelang pensiun. Tentu saja kami merasa bingung, karena saat itu kami sedang mencari pekerjaan dan masih jauh dari usia pensiun. Namun, fasilitatornya menjelaskan tujuan dari aktivitas tersebut, “Pidato Anda kemungkinan tidak akan berkaitan langsung dengan pekerjaan Anda.” Ia menegaskan bahwa pekerjaan bukanlah pusat hidup kita. Kita mungkin menyesali pekerjaan yang hilang, tetapi sesungguhnya hidup kita jauh lebih bermakna daripada sekadar memiliki pekerjaan.

    Saya teringat pada ucapan tersebut saat membaca keterangan tentang Abraham di penghujung hidupnya. Ia meninggal dunia “pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur” (Kej. 25:8). Di sepanjang Kitab Suci, kita membaca tentang kesetiaan Abraham dalam menaati perintah Allah, meski tidak banyak yang kita ketahui tentang perbuatan-perbuatannya. Iman yang ia tunjukkan (15:6) mengingatkan saya pada kesimpulan dari Pengkhotbah: “Allah memberikan hikmat, pengetahuan dan kebahagiaan kepada orang yang menyenangkan hati-Nya” (2:26 BIMK). Pernyataan ini dikemukakan sang pengkhotbah setelah merenungkan makna kehidupan dan bagaimana seseorang dapat menemukan kenikmatan dari hasil kerja atau jerih lelahnya (ay. 24-25).

    Di tengah rasa kecemasan yang mungkin ditimbulkan oleh hilangnya pekerjaan, baiklah kita merenungkan teladan Abraham dan ucapan Pengkhotbah, karena keduanya mengarahkan kita kepada kepuasan sejati yang hanya dapat ditemukan di dalam Allah.

    Oleh: Katara Patton

    Renungkan dan Doakan

    Menurut Anda, apa kesan dan kenangan orang tentang diri Anda? Bagaimana memusatkan perhatian pada warisan hidup Anda akan memampukan Anda untuk menjalani hari demi hari?

    Ya Bapa, ingatkanlah aku untuk hidup setia dengan berjalan bersama-Mu, mencari dan mengalami kepuasan sejati dalam hadirat-Mu.

    Amin 

    Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu 

    WAWASAN

    Perjalanan iman Abraham dimulai pada usia 75 tahun, “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran” (Kejadian 12:4). Ia meninggal 100 tahun kemudian, “Abraham menikmati umur panjang selama 175 tahun, lalu mati. Sesudah itu, dia mendapat tempat bersama dengan nenek moyangnya yang sudah meninggal dunia” (25:7-8 TSI). Betapa indah akhir hidupnya! Namun, lebih dari sekadar panjang umur, Abraham paling dikenal karena ia “penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (Roma 4:21). 

    Seseorang tidak harus berumur panjang untuk hidup dalam iman. Saat ini, sekalipun ada kehilangan dan kesulitan yang kita alami, kualitas dan kepuasan sejati hidup kita terletak pada iman kepada Allah yang hidup, yang telah menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus. –Arthur Jackson 

    Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti 

    Our Daily Bread

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia
Pengamat Sosial

Harapan yang Dihadirkan Yesus 2026-03-10

Jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. –1 Tesalonika 4:13 Semuanya bermula dari sebuah surat elektron...

Halaman FB